Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi terkini, yang berjudul: Hilirisasi Kakao dari Desa, Kunci Lampung Entaskan Kemiskinan.
Hilirisasi Kakao dari Desa, Kunci Lampung Entaskan Kemiskinan
Oleh: Mahendra Utama*
Mengapa Nilai Tambah Harus Dimulai dari Desa
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan strategi pembangunan inklusif berbasis hilirisasi. “Hilirisasi, nilai tambah harus dilakukan dari sumber bahan baku, yaitu ada di desa-desa,” ujarnya di Pekon Ampai, Pesawaran.
Gagasan ini sejalan dengan teori value chain Michael Porter bahwa keunggulan kompetitif lahir ketika daerah produsen mampu mengolah, bukan sekadar menjual bahan mentah.
Solar Dryer: Teknologi Sederhana, Dampak Besar
Persoalan klasik petani kakao adalah ketergantungan musim. Saat hujan, kakao basah terpaksa dijual Rp20.000–Rp30.000 per kilogram. Setelah dikeringkan, harga melonjak Rp70.000–Rp80.000. Di sinilah solar dryer hadir sebagai solusi.
Gubernur menegaskan, “Cokelat mahal kalau kering… tapi mereka hanya bisa jual tiga atau empat bulan secara mahal.” Teknologi tepat guna ini memutus belenggu musiman yang selama ini menekan pendapatan petani.
Pekerjaan Rumah Hilirisasi
Dari total komoditas Lampung senilai Rp150 triliun dalam struktur PDRB, baru sekitar Rp40 triliun yang dihilirisasi—tak lebih dari 30 persen. Data ini menunjukkan besarnya ruang perbaikan.
Tanpa hilirisasi, nilai tambah dinikmati industri besar di kota, sementara desa tetap menjadi pemasok bahan mentah.
Kesenjangan ini bertentangan dengan prinsip inclusive growth yang digaungkan pemerintah daerah.
Pekon Ampai sebagai Pusat Inovasi
Gubernur berharap Pekon Ampai tidak hanya mengeringkan, tetapi memproduksi dan mendistribusikan solar dryer ke seluruh pesisir Lampung.
Dengan produksi kakao Pesawaran mencapai 21.000 ton per tahun dari lahan 25.000 hektar, potensi ini sangat strategis.
Jika dikelola serius, desa ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah sekaligus model nasional. (*)
—-‐—–‐——————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network