Lappung – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) memastikan akan melakukan perbaikan signifikan pada 17 ruas jalan provinsi dengan total panjang hampir 100 kilometer.
Proyek yang dijadwalkan berjalan pada tahun anggaran 2026 ini didanai melalui skema pinjaman Bank BJB.
Baca juga : Mirza di Pesisir Barat: Maju Bukan Cuma Infrastruktur, Desa Harus Berdaulat
Langkah berani itu pun mendapat sorotan positif dari Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.
Ia menilai kebijakan tersebut bukan sekadar proyek fisik semata, melainkan intervensi strategis untuk menyelamatkan efisiensi rantai pasok daerah.
Menurut Mahendra, pemilihan 17 ruas jalan sangat krusial karena kondisinya yang memprihatinkan, padahal posisinya sangat strategis sebagai jalur distribusi logistik.
“Kalau kita bedah lokasinya, ruas-ruas ini adalah urat nadi. Mereka melintasi kawasan pertanian produktif dan menjadi penghubung vital antar kabupaten.
Perbaikan ini memastikan ekonomi rakyat tidak macet hanya karena infrastruktur yang buruk,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Minggu, 11 Januari 2026.
Pangkas Biaya Logistik
Mahendra menyoroti dampak langsung kerusakan jalan terhadap sektor pertanian yang menjadi tulang punggung Lampung.
Ia menganalisis bahwa jalan rusak selama ini menciptakan apa yang disebut sebagai hambatan efisiensi rantai pasok.
“Ketika jalan rusak, biaya angkut otomatis membengkak dan waktu tempuh jadi lama.
“Risikonya, hasil panen petani bisa busuk di perjalanan sebelum sampai ke pasar atau pelabuhan. Ujung-ujungnya petani dan pedagang kecil yang merugi,” jelasnya.
Baca juga : Wisatawan Melonjak dan Dapat Award, Pemprov Lampung Punya PR Jaga Konsistensi Infrastruktur
Dalam perspektif ekonomi transportasi, Mahendra menyebut perbaikan akan meminimalkan friction of distance atau hambatan jarak.
Dengan jalan yang mulus, biaya transaksi turun dan daya saing produk lokal Lampung akan meningkat karena distribusi yang lebih cepat dan murah.
Multiplier Effect
Selain dampak logistik, Mahendra juga menekankan adanya efek berganda (multiplier effect) dari proyek ini.
Masuknya investasi infrastruktur diyakini akan menyerap tenaga kerja lokal selama masa konstruksi.
“Secara sosial, dampaknya besar. Akses warga ke fasilitas kesehatan dan pendidikan jadi lebih mudah.
“Daerah yang tadinya terisolasi akan terbuka. Teori ekonomi manapun membenarkan bahwa infrastruktur adalah kunci membangun sumber daya manusia berkualitas,” tambahnya.
Apresiasi Keberanian Gubernur
Secara khusus, Mahendra memberikan apresiasi kepada Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, atas keputusan mengambil pinjaman daerah demi percepatan pembangunan.
Menurutnya, hal itu adalah bentuk kepemimpinan visioner yang berani mengambil risiko terukur demi kepentingan publik.
“Mengambil pinjaman untuk investasi produktif seperti jalan adalah pilihan tepat. Ini menunjukkan kolaborasi solid antara Pemprov dan DPRD yang responsif terhadap keluhan masyarakat.
“Fondasi jalan yang kokoh adalah investasi jangka panjang untuk Lampung yang lebih berdaya,” tutup Mahendra.
Baca juga : Potret Buram Infrastruktur, Aduan Warga Soal Jalan di Lampung Naik 100 Kali Lipat
