Lappung – Kapolres Malaka, AKBP Riki Ganjar Gumilar, menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang berbeda dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Alih-alih bersikap kaku, ia memilih membumi dan menyatu dengan masyarakat melalui pendekatan budaya.
Baca juga : Generasi Muda Memimpin Lampung: Harapan yang Sedang Menjadi Kenyataan
Hal ini terlihat jelas saat AKBP Riki hadir dalam Acara Hisa Uma Adat (Atap Rumah Adat) Uma Dato Nonot Forenain di Desa Babulu, Malaka, baru-baru ini.
Kehadiran Kapolres dalam prosesi adat tersebut bukan sekadar seremonial.
Ia tampil hangat dan terlibat langsung dalam upacara, termasuk turut serta dalam prosesi adat penyerahan alang-alang.
Puncaknya, AKBP Riki Ganjar Gumilar larut dalam kegembiraan, ikut menari Tebe bersama masyarakat yang hadir.
Momen tersebut menjadi simbol nyata dari visi Polri yang humanis, di mana aparat dan rakyat dapat bersatu tanpa sekat.
Sentuh Berbagai Sektor
Pendekatan humanis yang diusung AKBP Riki tidak hanya terlihat di acara adat.
Kepemimpinannya di wilayah perbatasan itu juga ditandai dengan berbagai inisiatif yang menyentuh langsung kebutuhan publik.
Di sektor ketahanan pangan, Kapolres diketahui memimpin langsung kegiatan penanaman dan panen jagung bersama para petani.
Inisiatif ini diambil sebagai bentuk dukungan Polri terhadap program ketahanan pangan nasional.
Baca juga : Irjen Helmy Santika Ditarik ke Mabes Polri, Brigjen Helfi Assegaf Jabat Kapolda Lampung
Di bidang pelayanan, Polres Malaka juga berbenah dengan menetapkan standar pelayanan publik yang ramah terhadap kelompok rentan, menunjukkan komitmen pada keadilan yang lebih inklusif bagi semua lapisan masyarakat.
Tuai Apresiasi DPRD
Langkah Kapolres Malaka ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk legislatif setempat.
Anggota Komisi III DPRD Malaka, Yuventus Adrianus Bere, secara terbuka memuji kapasitas AKBP Riki yang dinilai responsif dan sangat humanis dalam menjalankan tugasnya.
Keamanan dari Kekerabatan
Apa yang ditunjukkan AKBP Riki Ganjar Gumilar di Malaka dinilai sebagai contoh penerapan community policing (polisi masyarakat) yang ideal.
Pendekatan ini mengutamakan pembangunan kedekatan emosional dan kepercayaan sebagai fondasi utama keamanan preventif.
Melalui partisipasinya dalam acara adat dan inisiatif sosial lainnya, Kapolres Malaka membuktikan bahwa keberhasilan kamtibmas tidak melulu diukur dari jumlah personel atau kekuatan fisik.
AKBP Riki menunjukkan bahwa keamanan yang berkelanjutan justru lahir dari empati, penghormatan tulus pada budaya, dan kehadiran polisi yang tidak hanya berada di tengah masyarakat, tetapi juga diterima dalam sistem kekerabatan masyarakat itu sendiri.
Baca juga : Jejak Karir Kombes Pol Alfret Jacob Tilukay: Dari Penyidik KPK ke Kapolresta Bandarlampung





Lappung Media Network