Lappung – Nasib petani kelapa di Lampung kini berada di titik balik.
Program hilirisasi yang digalakkan pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata, mengubah buah kelapa yang semula hanya komoditas mentah menjadi produk bernilai jual tinggi.
Baca juga : Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi
Keberhasilan tersebut tidak hanya mendongkrak perekonomian lokal, tetapi juga membuka babak baru bagi ribuan keluarga petani di Bumi Ruwa Jurai.
Pemerhati pembangunan, Mahendra Utama, menyebut momentum ini sebagai langkah strategis yang telah lama dinantikan.
Menurutnya, potensi besar yang dimiliki Lampung, terutama dengan ragam jenis kelapa unggulan, kini mulai tergarap secara serius.
“Ini adalah transformasi yang signifikan. Petani tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi telah naik kelas menjadi produsen.
“Hilirisasi adalah kunci untuk memotong rantai pasok yang panjang dan memberikan nilai tambah langsung kepada mereka,” ujar Mahendra, Selasa, 14 Oktober 2025.
Kelapa Kopyor
Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Lampung tahun 2023, produksi kelapa (setara kopra) di daerah ini sangat signifikan.
Kabupaten Lampung Selatan menjadi lumbung utama dengan produksi mencapai 20.521 ton, diikuti oleh Tanggamus dengan 18.430 ton, dan Lampung Timur sebesar 11.434 ton.
Keunggulan Lampung tidak hanya terletak pada kuantitas, tetapi juga keragaman varietasnya.
Selain Kelapa Dalam dan Kelapa Genjah yang sudah umum dibudidayakan, Lampung memiliki harta karun berupa Kelapa Kopyor dari Kalianda, Lampung Selatan.
Kelapa Kopyor merupakan hasil mutasi genetik alami yang membuat daging buahnya lembut, manis, dan terlepas dari tempurungnya.
Keunikannya ini membuat harganya meroket di pasaran.
“Jika kelapa biasa dihargai sekitar Rp5.000 per butir, harga Kelapa Kopyor bisa mencapai sepuluh kali lipat, bahkan lebih, hingga Rp 50.000,” jelas Mahendra.
Potensi inilah yang menjadi salah satu fokus utama dalam program hilirisasi.
Dukungan Pemerintah
Komitmen untuk mengangkat derajat petani kelapa terus disuarakan oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.
Dalam kunjungannya ke salah satu sentra perkebunan di Tanggamus, ia menegaskan pentingnya pengolahan produk lokal.
“Kita tidak mau terus-terusan hanya jadi pemasok bahan mentah.
“Saatnya produk Lampung punya nilai tambah tinggi dan bersaing di pasar modern,” tegas Gubernur.
Baca juga : Hilirisasi Bangun Lampung Emas
Semangat ini sejalan dengan program Desaku Maju yang diimplementasikan di tingkat provinsi.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung menyatakan bahwa pemerintah daerah secara aktif memberikan pendampingan.
“Kami terus fasilitasi petani dengan pelatihan pengolahan, bantuan mesin, hingga membuka akses pasar. Petani tidak boleh jalan sendiri,” katanya.
Dari Kebun ke Pasar
Hasil dari sinergi antara petani dan pemerintah kini mulai terlihat jelas di lapangan.
Sejumlah kelompok tani di beberapa desa telah berhasil memproduksi minyak kelapa murni (VCO) dengan kemasan modern yang siap bersaing di pasaran.
Selain itu, inovasi berbasis Kelapa Kopyor juga berkembang pesat.
Produk seperti es kelapa kopyor dalam kemasan premium mulai menyasar pasar di kota-kota besar, membuktikan bahwa produk dari desa mampu menembus gaya hidup urban.
“Cerita-cerita sukses dari desa ini adalah harapan besar kita.
“Ini membuktikan bahwa kelapa Lampung bukan lagi sekadar komoditas, melainkan produk unggulan yang siap dikenal luas,” tambah Mahendra Utama.
Dengan potensi alam yang luar biasa dan dukungan kebijakan yang semakin terarah, masa depan perkebunan kelapa di Lampung tampak cerah.
“Ini adalah bukti nyata bahwa program hilirisasi yang serius dan berkelanjutan mampu mengubah nasib petani dan menjadikan kelapa sebagai ikon kebangkitan ekonomi daerah,” tutup Mahendra Utama.
Baca juga : 3 Pilar Pangan dan Ekonomi Lampung Selatan
