Lappung – Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kerap menunjukkan kesenjangan yang cukup signifikan antara 2 kota besar di Sumatera, yakni Bandarlampung dan Palembang.
Kota Palembang secara konsisten mencatatkan angka ekonomi yang lebih unggul dibandingkan Bandarlampung.
Baca juga : DAMRI Buka Rute Baru Serang-Bandarlampung dan Palembang
Menanggapi fenomena tersebut, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai bahwa ketimpangan tersebut bukan sekadar permainan angka statistik.
Menurutnya, hal ini mencerminkan perbedaan mendasar dalam peran ekonomi yang dimainkan oleh kedua kota tersebut di wilayah masing-masing.
“Palembang konsisten lebih unggul. Ini bukan cuma soal angka di atas kertas, tapi perbedaan fundamental peran ekonomi.
“Palembang sudah lama memposisikan diri sebagai pusat ekonomi Sumatera Bagian Selatan,” ujar Mahendra Utama dalam keterangan tertulisnya, Senin, 1 Desember 2025.
Keunggulan Industri Palembang
Mahendra menjelaskan, secara geografis dan historis, Palembang memiliki keunggulan strategis.
Keberadaan Sungai Musi yang membelah kota tersebut menjadi urat nadi vital yang menghubungkan daerah hulu yang kaya akan batubara, minyak, dan perkebunan langsung ke pusat distribusi dan industri.
“Kekuatan ekonomi Palembang itu ada di sektor industrinya, terutama petrokimia dan pengolahan komoditas unggulan Sumsel.
“Ditambah lagi, sektor jasa keuangan dan perdagangan besar di sana melayani hampir seluruh kawasan Sumbagsel,” jelasnya.
Besarnya investasi dan perputaran uang di sektor industri pengolahan inilah, menurut Mahendra, yang mendongkrak PDRB Palembang secara signifikan.
Bandarlampung Masih Terjebak Peran Transit
Berbeda dengan tetangganya, Mahendra menyoroti posisi Bandarlampung yang meskipun berstatus ibu kota provinsi, perannya masih terbatas sebagai gerbang penghubung Jawa dan Sumatera.
“Ekonomi Bandarlampung masih banyak bergantung pada aktivitas transit, perdagangan eceran, dan pendukung distribusi hasil pertanian.
“Masalah utamanya, sektor industri pengolahan di sini belum sebesar Palembang,” tegas Mahendra.
Ia menambahkan, mayoritas industri di Bandarlampung masih berskala lokal dan belum mencapai tahap hulu-hilir yang kompleks.
Baca juga : Kejar Target 2026, Pembangunan RS Penyakit Dalam Bandarlampung Dimulai
Akibatnya, nilai tambah ekonomi (value added) yang dihasilkan relatif kecil.
“Komoditas utama kita seperti kopi, lada, atau singkong, nilai tambahnya seringkali sudah terbentuk di kabupaten penghasil, atau justru langsung dibawa keluar lewat pelabuhan tanpa diolah lebih lanjut di Bandar Lampung,” paparnya.
Infrastruktur dan Diversifikasi
Dalam analisisnya, Mahendra juga membandingkan infrastruktur logistik kedua kota.
Palembang dinilai unggul lewat sistem transportasi multimoda yang terintegrasi, mulai dari sungai, laut, kereta api, hingga bandara internasional yang tersambung dengan sentra produksi.
Hal ini membuat biaya logistik lebih efisien dan volume transaksi lebih besar.
Sementara itu, meski Bandarlampung memiliki Pelabuhan Panjang dan akses Tol Trans-Sumatera, Mahendra menekankan perlunya diversifikasi ekonomi agar kota ini tidak sekadar menjadi jalur lewat.
“Tantangannya sekarang adalah bagaimana mendiversifikasi ekonomi.
“Jangan sampai terlalu nyaman dan bergantung pada peran sebagai gerbang transit saja,” kata dia.
Sebagai solusi, Mahendra menyarankan agar pemangku kebijakan di Bandarlampung mulai fokus menarik investasi besar di sektor industri pengolahan yang mampu menghasilkan nilai tambah tinggi.
“Jika ingin mengejar ketertinggalan, Bandarlampung harus perkuat peran sebagai pusat jasa dan keuangan, tidak hanya untuk lingkup lokal, tapi juga menyangga provinsi-provinsi tetangga,” pungkas Mahendra.
Baca juga : PDRB Bandarlampung Versus PDRB Palembang: Siapa Unggul?





Lappung Media Network