Lappung – Provinsi Banten kerap dipuji sebagai salah satu kekuatan ekonomi nasional yang menjanjikan.
Namun, dibalik angka statistik yang memukau, tersimpan ironi ketimpangan yang tajam.
Kekayaan ekonomi provinsi ini dinilai tidak merata dan hanya menumpuk di wilayah utara, meninggalkan wilayah selatan dalam ketertinggalan.
Baca juga : Kenapa PDRB Bandarlampung Masih Kalah Jauh dari Palembang?
Hal itu pun disoroti oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.
Menurutnya, dominasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita Banten terkonsentrasi di 3 wilayah utama, Kota Cilegon, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
“Ada jurang kesenjangan yang nyata. Jika kita bedah datanya, angka di Cilegon dan Tangerang Raya melesat jauh meninggalkan daerah lain, terutama dua kabupaten di selatan, yakni Lebak dan Pandeglang,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Selasa, 2 Desember 2025.
Mesin Uang Bernama Cilegon dan Tangerang
Mahendra mengurai alasan mengapa wilayah utara Banten begitu mendominasi.
Kota Cilegon, misalnya, telah mapan sebagai raja industri berat.
Keberadaan pabrik baja, petrokimia, serta manufaktur padat modal menciptakan nilai ekonomi yang masif.
“Cilegon itu mesin uangnya Banten. Investasi besar, teknologi canggih, ditambah posisi strategis Pelabuhan Merak dan Ciwandan menjadikan sektor industri pengolahan di sana penyumbang PDRB terbesar,” jelasnya.
Sementara itu, Tangerang dan Tangsel menikmati keuntungan geografis sebagai pintu gerbang Jakarta.
Mahendra menyebut kedua kota ini tak terpisahkan dari ekosistem megapolitan Jabodetabek.
Tangerang tumbuh lewat industri dan perdagangan, sedangkan Tangsel menjadi magnet bagi hunian kelas menengah-atas dan bisnis modern.
Baca juga : Muara Enim, Muba, dan Palembang: 3 Raja Ekonomi Sumatera Selatan yang Jarang Disorot
“Infrastruktur di sana lengkap. Jalan tol, akses bandara, hingga stasiun kereta membuat investor berebut masuk.
“Akibatnya, sektor jasa, keuangan, dan properti berputar sangat cepat,” tambah Mahendra.
Selatan yang Terlupakan
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Lebak dan Pandeglang.
Mahendra menyayangkan bahwa saat wilayah utara sedang panen raya, wilayah selatan masih berkutat pada sektor pertanian dan perikanan yang memiliki nilai tambah ekonomi lebih rendah dibanding industri modern.
Ia menegaskan bahwa ketimpangan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“Ini soal realitas di lapangan. Akses infrastruktur minim, kesempatan kerja terbatas, dan kualitas SDM belum merata.
“Investasi pun seolah enggan melirik ke selatan,” tegasnya.
Pemerataan Pembangunan
Menutup analisisnya, Mahendra mendesak Pemerintah Provinsi Banten untuk tidak terlena dengan capaian makro ekonomi yang disumbang oleh 3 wilayah superstar tersebut.
Ia mendorong pemerintah segera menggeser fokus pembangunan.
Pengaliran investasi, pembangunan infrastruktur dasar, dan peningkatan kualitas SDM harus diprioritaskan untuk wilayah-wilayah yang tertinggal.
“PDRB tinggi tidak ada gunanya jika hanya dinikmati segelintir wilayah.
“Kalau tidak ada intervensi serius, Banten selamanya hanya akan dikenal sebagai Tangerang dan Cilegon, sementara daerah lain hanya jadi penonton,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Pertarungan Ekonomi 3 Raja Lumbung Pangan Lampung: Siapa Paling Unggul dalam PDRB Per Kapita 2024?
