Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Menimbang Optimisme dan Kesiapan Desa Lampung Menuju Ekspor.
Menimbang Optimisme dan Kesiapan Desa Lampung Menuju Ekspor
Oleh: Mahendra Utama*
Pemetaan Adalah Fondasi, Tapi Masih Ada PR Besar di Hilir
Pernyataan Sekdaprov Lampung, Marindo Kurniawan, mengenai pemetaan potensi dan kesiapan desa ekspor patut diapresiasi sebagai langkah strategis. Ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah mulai serius membaca peta ekonomi dari akar rumput.
Namun, sebagai pemerhati pembangunan, saya menilai bahwa pemetaan hanyalah fondasi awal. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana menerjemahkan data potensi itu menjadi aliran ekspor yang berkelanjutan.
Kita perlu jujur melihat bahwa masih ada pekerjaan rumah (PR) besar di sektor hilir. Berdasarkan catatan Barantin, terdapat empat hambatan utama yang kerap menggagalkan produk desa di pintu ekspor: standar mutu, ketertelusuran (traceability), sertifikasi, dan keamanan pangan.
Keempatnya adalah tembok beton yang tidak bisa ditembus hanya dengan peta potensi. Program Desaku Maju yang disebutkan memang ambisius, namun sejauh ini belum terlihat skema konkret untuk menurunkan tembok-tembok tersebut.
Mengutip teori export-base hypothesis dari Douglass North, pertumbuhan ekonomi daerah sangat ditentukan oleh kemampuan ekspor, tetapi teori ini dengan tegas mensyaratkan adanya infrastruktur fisik dan kelembagaan yang mumpuni.
Di sinilah celah yang harus diisi Pemprov. Pengalaman pahit ekspor manggis Purwakarta yang terhenti karena pasokan tidak stabil harus menjadi cermin. Ekspor membutuhkan konsistensi volume dan kualitas, bukan sekadar sekali kirim.
Memang, nilai ekspor Lampung 2025 yang menyentuh US$6,637 miliar dan tumbuh 18,78% adalah kabar baik. Namun, desa-desa masih menjadi penonton di panggung utama.
Oleh karena itu, pernyataan Sekdaprov harus dibaca sebagai panggilan untuk bertindak, bukan sekadar deklarasi. Kita perlu mendorong agar fokus tidak hanya pada pemetaan hulu, tetapi juga pada penguatan akses pasar, logistik desa, dan pembiayaan ekspor yang ramah petani.
Ini awal yang baik, mari kita kawal agar tidak berhenti di dokumen administrasi. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network