Lappung – Pemberdayaan ekonomi melalui mangrove Lampung siap maju menuju ekowisata berkelanjutan.
Provinsi Lampung terus berkomitmen untuk mengembangkan potensi ekowisata berbasis mangrove, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat dan penguatan branding produk.
Baca juga : KPH Way Pisang Go Digital Promosikan Wisata Alam
Upaya ini terwujud dalam Workshop Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Komunitas yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Lampung pada 23-24 Oktober 2024 di Hotel Golden Tulip, Bandarlampung.
Kegiatan itu dihadiri oleh 50 peserta dari berbagai kabupaten di Lampung.
Tak lain bertujuan untuk memperkuat peran serta masyarakat dalam menjaga kelestarian mangrove sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.
Menurut Prof Selamet Budi Yuwono, Ketua KKMD Lampung, partisipasi masyarakat sangat penting dalam pelestarian mangrove.
“Dengan pemberdayaan ini, masyarakat tidak hanya menjaga mangrove, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan jasa lingkungan,” ujar Prof Selamet.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan peta Mangrove Nasional tahun 2023, ekosistem mangrove di Provinsi Lampung mencakup 10.095 hektare.
Dan lebih dari 95 persen kawasan tersebut dikelola langsung oleh masyarakat.
Baca juga : Disparekraf-Atourin Digitalisasi 30 Desa Wisata di Lampung
“Workshop ini diharapkan menjadi langkah penting dalam melibatkan lebih banyak pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat,” ungkapnya.
Pemberdayaan Ekonomi Melalui Mangrove: Lampung Siap Maju Menuju Ekowisata Berkelanjutan
Dalam kegiatan tersebut, Yopie Pangkey, seorang ahli branding, menekankan pentingnya membangun identitas yang kuat untuk produk berbasis mangrove.
“Branding bukan hanya soal logo atau kemasan, tetapi juga tentang nilai dan keunikan produk,” jelas Yopie, yang juga merupakan pendiri tour operator Avonturin.
Ia menyoroti pentingnya memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan proses branding.
“Dengan memanfaatkan media sosial, kita bisa go nasional bahkan internasional,” imbuhnya.
Baca juga : Bahagianya Ratu, Lahirkan Bayi Badak Sumatera di TNWK
Melly Ayunda, Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, juga menekankan peran media sosial dalam memperluas jangkauan kelompok mangrove.
“Kami berkomitmen membantu mempromosikan ekowisata berbasis mangrove sebagai salah satu daya tarik wisata Lampung,” ujarnya, menambahkan bahwa dukungan dari influencer dapat mempercepat promosi produk berbasis mangrove.
Model Cuku Nyinyi
Salah satu contoh sukses pengelolaan mangrove berbasis masyarakat adalah Cuku Nyinyi.
Kelompok Tani Mangrove Mutiara Hijau I di daerah tersebut telah berhasil memadukan konservasi dengan pengembangan wisata.
“Dengan keterampilan yang kami dapatkan, kami bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari produk olahan mangrove dan jasa lingkungan,” ungkap Samsuddin, Ketua kelompok tani tersebut.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan pemberdayaan yang tepat, masyarakat dapat menjaga kelestarian lingkungan sambil meningkatkan ekonomi mereka.
Dengan inisiatif-inisiatif seperti ini, Lampung siap untuk maju sebagai destinasi ekowisata yang berkelanjutan.
Memberikan manfaat tidak hanya bagi masyarakat lokal tetapi juga bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam dan keunikan ekosistem mangrove.
Baca juga : Sharing Season Muli Mekhanai Lampung, Ada Naomi Natalia dan Rio Motret
