Lappung – Pemerintah mendorong program diversifikasi pangan strategis dengan mengajak para petani singkong untuk beralih menanam jagung.
Langkah ini diambil bukan hanya untuk menjaga kesuburan tanah, tetapi juga karena nilai ekonomi jagung yang diklaim mencapai 6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan singkong, serta untuk menekan ketergantungan impor nasional.
Baca juga : 5 Kabupaten Raja Jagung di Lampung
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menjelaskan bahwa program ini merupakan langkah transformatif yang menyentuh 3 pilar penting, efisiensi ekonomi, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan petani.
“Ini bukan sekadar perubahan komoditas, tetapi sebuah transformasi menuju efisiensi dan kedaulatan pangan.
“Lampung, sebagai salah satu lumbung singkong nasional, menjadi proyek percontohan yang sangat vital,” ujar Mahendra Utama, Sabtu, 11 Oktober 2025.
Keunggulan Ekonomi dan Logistik
Menurut Mahendra, salah satu alasan utama di balik program ini adalah perbedaan nilai ekonomi yang sangat signifikan antara kedua komoditas.
Jagung menawarkan stabilitas harga yang lebih baik dan valuasi yang jauh lebih tinggi.
“Data di lapangan menunjukkan perbandingan yang mencolok. 1 truk bermuatan 20 ton singkong dihargai sekitar Rp16 juta.
“Sementara dengan tonase yang sama, jagung bisa mencapai nilai Rp100 juta,” jelasnya.
Perbedaan ini, lanjutnya, tidak hanya memberikan keuntungan finansial langsung bagi petani tetapi juga menciptakan efisiensi dalam biaya logistik.
Biaya transportasi menjadi jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai barang yang diangkut.
Kurangi Impor dan Sehatkan Tanah
Di tingkat nasional, kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor jagung yang selama ini menjadi kebutuhan vital industri pakan ternak.
Dengan peningkatan produksi domestik, Indonesia diharapkan dapat lebih mandiri.
Baca juga : Investor Tiongkok Janjikan Produksi Jagung Lampung Naik 2 Ton per Hektare
Selain itu, Mahendra menyoroti aspek agronomi dari program ini.
Lahan yang selama bertahun-tahun ditanami singkong secara terus-menerus dinilai mengalami kejenuhan.
“Rotasi tanaman dengan jagung menjadi pilihan ideal untuk merestorasi dan meningkatkan kembali kesuburan tanah.
“Ini adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan lahan pertanian kita,” tegasnya.
Dukungan Pemerintah
Program diversifikasi ini telah mendapat dukungan dari berbagai tingkatan pemerintahan.
Mahendra menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menempatkan program ini sebagai bagian penting dari agenda ketahanan pangan nasional.
Di tingkat teknis, Kementerian Pertanian siap menyediakan program pendampingan serta bantuan yang dibutuhkan petani untuk masa transisi.
Sementara di tingkat daerah, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal juga memandang diversifikasi ini sebagai langkah strategis untuk mewujudkan kemakmuran petani lokal.
“Dengan dukungan penuh dari pusat hingga daerah, serta partisipasi aktif para petani, program ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani, mendorong ekonomi pedesaan, dan pada akhirnya mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Irigasi: Faktor Kunci Swasembada Beras di Lampung





Lappung Media Network