Lappung – Poros Lampung-Kepri-Jateng-Malut bakal gempur pasar ekspor.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama 3 provinsi lainnya, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, dan Maluku Utara, resmi membentuk poros kerja sama strategis untuk memperluas pasar ekspor.
Baca juga : Wow! Ekspor Kopi, Teh, dan Rempah Lampung Meroket 552,21 Persen di Awal 2025
Aliansi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Hotel Marriott Harbour Bay, Batam, pada Sabtu, 14 Juni 2025.
Langkah kolaboratif ini bertujuan menciptakan rantai pasok regional yang terintegrasi, memperkuat distribusi pangan, dan yang terpenting, membuka gerbang ekspor baru bagi komoditas unggulan daerah melalui Kepulauan Riau (Kepri) sebagai pintu utama menuju Singapura dan pasar global lainnya.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang hadir langsung bersama 3 kepala daerah lainnya, menegaskan bahwa sinergi adalah kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional.
“Kalau jalan sendiri-sendiri, kita kecil. Tapi jika kekuatan ini dikonsolidasikan, difasilitasi oleh negara melalui BUMD, ini akan menjadi model distribusi dan ekspor yang sangat kuat,” ujar Gubernur Mirza.
Kerja sama ini dibangun di atas fondasi kekuatan unik masing-masing daerah.
Baca juga : Percepat Ekspor, Fasilitas Fumigasi di Pelabuhan Panjang Resmi Beroperasi
Gubernur Mirza memaparkan, setiap provinsi membawa keunggulannya ke meja perundingan untuk menciptakan sebuah kekuatan ekonomi baru.
- Lampung: Sebagai lumbung pangan, unggul di sektor pertanian, hortikultura, dan memiliki surplus peternakan seperti ayam.
- Jawa Tengah: Dikenal memiliki efisiensi tinggi dalam industri produksi ayam.
- Maluku Utara: Kuat di sektor permodalan dan merupakan produsen utama komoditas hasil laut.
- Kepulauan Riau: Memiliki posisi geografis yang sangat strategis sebagai gerbang ekspor terdekat ke Singapura dan jalur pelayaran internasional.
“Kita menyatukan kekuatan. Lampung dengan surplus pertaniannya, Jateng dengan efisiensi industrinya, Malut dengan modal dan hasil lautnya, serta Kepri sebagai pintunya. Ini adalah rantai pasok regional yang utuh,” jelas Mirza.
Bagi Lampung, poros ekonomi baru ini dinilai sebagai peluang emas, terutama bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pengusaha lokal.
Selama ini, banyak dari mereka yang berjuang menembus pasar secara mandiri dengan kapasitas terbatas.
Melalui kerja sama ini, pemerintah daerah akan hadir sebagai fasilitator. BUMD akan berperan mengonsolidasi produk-produk unggulan dari para petani, peternak, dan pelaku UMKM untuk diekspor dalam skala yang lebih besar dan kompetitif.
Baca juga : Kopi Robusta Lampung Laris di Mesir, Ekspor Capai Ratusan Ton
“Ini adalah keberpihakan nyata. Selama ini mereka berdagang sendiri, sekarang difasilitasi pemerintah.
“Ini akan memperkuat UMKM, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan yang terpenting membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Lampung,” tegas Gubernur Mirza.
Poros Lampung-Kepri-Jateng-Malut Gempur Pasar Ekspor
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, menyambut baik inisiatif ini dan menekankan pentingnya sinergi antardaerah untuk menjawab tantangan ketahanan pangan nasional sekaligus menangkap peluang ekspor.
“Kebutuhan pangan nasional dan potensi ekspor ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia sangat besar. Kolaborasi seperti ini adalah jawaban yang tepat,” kata Ansar.
Ia juga mengusulkan reaktivasi Sumatera Promotion Center di Batam sebagai pusat promosi bersama untuk produk-produk dari Sumatera dan daerah mitra lainnya, yang langsung berhadapan dengan pasar Johor dan Singapura.
Senada dengan itu, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, menyatakan antusiasmenya.
“Kami ingin memperluas ekspor hasil laut kami, sekaligus belajar dari Lampung tentang ketahanan pangan dan dari Kepri soal pengembangan industri pariwisata.
“Ini adalah kolaborasi yang saling menguntungkan,” tutupnya.
Baca juga : Mendag Lepas Ekspor Olahan Kelapa Lampung Senilai Rp25 Miliar





Lappung Media Network