Lappung – Provinsi Lampung dinilai memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, mulai dari sektor perkebunan hingga pariwisata.
Namun, potensi besar tersebut dianggap masih tertidur dan belum memberikan dampak ekonomi yang maksimal bagi masyarakat lokal.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Lampung 2025: Momentum yang Tidak Boleh Dilewatkan
Hal ini disampaikan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.
Menurutnya, pola pikir ekonomi di Lampung harus segera bergeser dari sekadar menjual bahan mentah menjadi penghasil produk bernilai tambah.
Hilirisasi Komoditas Unggulan
Mahendra menyoroti sektor perkebunan, khususnya kopi robusta dan lada yang menjadi ikon Lampung.
Ia menyayangkan mayoritas petani dan pelaku usaha masih terpaku pada penjualan bahan mentah (raw material).
“Lampung ini gudangnya kopi dan lada. Tapi kenyataannya, kebanyakan kita masih jualan mentah.
“Nilai tambahnya dinikmati orang lain di luar sana,” ujar Mahendra, Minggu, 7 Desember 2025.
Ia mendorong agar petani kopi mulai berani masuk ke ranah hilirisasi, mulai dari proses roasting, pengemasan (packaging), hingga memiliki merek sendiri.
Begitu pula dengan komoditas lada yang memiliki potensi besar jika diolah menjadi produk turunan seperti minyak lada atau bumbu premium.
“Bayangkan kalau lada kita diolah jadi bumbu premium dengan kemasan menarik, atau kopi kita dijual bukan lagi sebagai green bean saja. Nilai jualnya bisa berlipat ganda,” tambahnya.
Optimalisasi Wisata Berbasis Komunitas
Selain sektor agraris, sektor pariwisata juga menjadi sorotan.
Mahendra menilai destinasi populer seperti Pantai Kiluan, Pahawang, hingga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) memiliki keindahan alam yang luar biasa, namun pengelolaannya masih terkesan seadanya.
Ia menyarankan penerapan konsep wisata berbasis komunitas sebagai solusi.
Baca juga : Eksportir sebagai Pilar Ekonomi Lampung dan Peran Strategis Kepemimpinan Muda
Dengan konsep ini, masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama.
“Masyarakat lokal harus diberdayakan. Mereka bisa jadi pemandu, pengelola homestay, hingga penyedia kuliner khas.
“Hasilnya, pendapatan benar-benar masuk ke kantong warga sekitar, bukan hanya dinikmati pengusaha besar,” tegas Mahendra.
Sektor Perikanan dan Ekonomi Digital
Sebagai daerah pesisir, Mahendra juga melihat celah besar di sektor perikanan yang belum digarap optimal.
Budidaya intensif seperti udang vaname dan kerapu, serta industri pengolahan hasil laut (seperti produk beku atau olahan siap saji), dinilai mampu mengurangi kerugian pasca-panen sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Di sisi lain, Mahendra juga menyinggung pentingnya merangkul anak muda Lampung yang melek teknologi untuk membangun ekonomi digital.
“Masa depan ada di sini. Kita harus dorong startup lokal, terutama di bidang AgriTech (teknologi pertanian) dan TravelTech. Termasuk studio kreatif untuk konten digital.
“Ini lahan basah yang tidak butuh tanah luas, tapi dampaknya besar untuk penyerapan tenaga kerja,” jelasnya.
Kolaborasi Lintas Sektor
Menutup gagasannya, Mahendra menegaskan bahwa semua potensi tersebut mustahil terwujud tanpa kolaborasi konkret.
Ia meminta pemerintah daerah untuk mempermudah akses perizinan dan memperbaiki infrastruktur penunjang.
Sementara itu, perguruan tinggi diharapkan turun gunung melalui riset yang aplikatif, dan pelaku usaha harus lebih berani berinvestasi.
“Masyarakat juga harus terus belajar soal branding dan menjaga kualitas. Lampung bisa lebih dari sekadar produsen bahan mentah.
“Kita bisa jadi pemain utama, tinggal mau atau tidak kita bergerak bersama,” pungkasnya.
Baca juga : Lampung di Simpang Jalan: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Berjalan Seiring dengan Kualitas Kerja
