Lappung – Kelangkaan dan meroketnya harga pupuk kimia bersubsidi kerap menjadi momok tahunan bagi para pahlawan pangan.
Menjawab jeritan tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah radikal namun terukur.
Inovasi Pupuk Organik Cair (POC) racikan desa kini menjadi ujung tombak untuk memutus rantai ketergantungan petani.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Anggota Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, memandang manuver ini sebagai lompatan krusial.
Ia menilai dorongan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) untuk memproduksi cairan penyubur secara mandiri bukan lagi sebatas program uji coba teknis semata.
“Ini terobosan strategis. Langkah Pak Gubernur langsung mengurai benang kusut di akar rumput soal kemandirian, sekaligus mendongkrak taraf hidup dan kesejahteraan mereka,” urai Mahendra, Senin, 30 Maret 2026.
Menyulap Limbah Menjadi Emas Cair
Bahan baku pembuatannya tak perlu jauh-jauh diimpor.
Mengandalkan kotoran ternak, sisa hijauan daun, hingga mikroorganisme lokal (MOL) yang difermentasi, inovasi ini menjelma menjadi nutrisi ampuh.
Mahendra menjelaskan, jika material sintetik perlahan merusak unsur hara dan menguras kocek, racikan organik justru mengembalikan kealamian struktur tanah.
Risiko erosi bisa ditekan, sementara nutrisi NPK dilepaskan secara konstan dan alami.
Aplikasinya pun tak repot karena cukup disemprotkan ke hamparan lahan luas.
Lebih dari itu, pakar pembangunan ini membeberkan bahwa masifnya pemakaian pupuk cair sangat linear dengan spirit Desaku Maju.
“Bahkan, ketahanan pangan nasional hingga suplai bahan baku berkualitas untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut tertopang kuat dari inisiatif di tingkat desa ini,” tambahnya.
Secara kalkulasi ekonomi, keuntungannya sangat menjanjikan bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Mereka tak perlu lagi waswas menunggu jatah subsidi yang kerap molor.
Biaya tanam per hektare ditekan tajam, sementara volume panen justru berpotensi melompat 20 hingga 30 persen dalam satu musim tanam.
Fakta di lapangan ini diamini langsung oleh Gubernur Mirza saat turun mengecek sentra produksi di Kampung Aji Mesir, Tulang Bawang.
Sang kepala daerah menegaskan target utamanya adalah desa yang berjaya dan rakyat sejahtera.
“Penggunaan pupuk kimia berhasil kita pangkas hingga 30 persen. Efek dominonya, produktivitas panen naik di kisaran 25 persen.
“Melalui pendekatan itu, petani memproduksi pangan sehat, ongkosnya murah, dan keseimbangan lingkungan jangka panjang tetap lestari,” tegas Mirza.
Ekspansi Agresif Menyentuh Separuh Desa se-Lampung
Skala penerapan program ini tak bisa dipandang sebelah mata.
Sepanjang 2025, sedikitnya 500 pusat pengolahan limbah menjadi pupuk telah berdiri kokoh.
Sentra-sentra ini menghidupi lebih dari 190.000 petani dengan luasan garapan menyentuh 175.788 hektare di kantong-kantong lumbung pangan seperti Tulang Bawang, Lampung Tengah, hingga Pringsewu.
Memasuki tahun 2026, target ekspansinya makin agresif.
Mahendra menyebut Pemprov Lampung memproyeksikan penambahan 1.000 titik baru, sehingga totalnya akan menyentuh angka 1.500 lokasi.
“Artinya, hampir separuh dari total 2.651 desa se-Lampung akan memiliki sentra produksi pupuk mandirinya sendiri,” rincinya.
Sebagai pelengkap, Pemprov juga menyiapkan sarana bed dryer untuk meminimalisasi penyusutan hasil panen.
Kesuksesan mengubah limbah menjadi emas cair ini tentu tak luput dari sinergi banyak tangan.
Mahendra memberikan acungan jempol kepada visi progresif Gubernur Mirza, kerja keras pendampingan dari Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KTPTH) Provinsi Lampung, hingga para ujung tombak di lapangan.
“Bupati, BUMDes, hingga Gapoktan seperti Karya Mandiri adalah pahlawan tak terlihat dalam ekosistem ini.
“Kolaborasi membuktikan bahwa swasembada pangan inklusif bukan sekadar jargon. Petani makmur dan desa maju itu realita yang tengah kita ukir hari ini,” pungkasnya.




Lappung Media Network