Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, pakar konservasi IPB, pernah menegaskan, “Harimau adalah indikator sehatnya hutan. Jika harimau punah, rusaklah keseimbangan ekologis.”
Kelahiran Puspa dan Muli Sikop bukan sekadar tambahan populasi, melainkan validasi bahwa strategi ex-situ yang digerakkan pemerintah daerah, BKSDA, dan swasta bisa menjadi kunci penyelamatan genetik satwa yang di alam liar tersisa kurang dari 400 ekor.
Apresiasi untuk Visi Konservasi Gubernur Lampung
Keberhasilan ini tak lepas dari komitmen Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang mendorong penuh program penyelamatan satwa langka sebagai bagian dari identitas pembangunan daerah.
Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada Taman Satwa Lembah Hijau, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung, dan tim medis yang merawat Kyai Batua dan Sinta hingga mampu bereproduksi.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa ketika kepala daerah memahami nilai strategis konservasi, hasilnya bisa sangat konkret.
Dari Klinik ke Ekowisata Berkelanjutan
Langkah selanjutnya adalah memastikan Puspa dan Muli Sikop menjadi duta edukasi publik. Integrasi program konservasi dengan ekowisata berbasis sains dapat menjadi sumber pendanaan sekaligus menyadarkan masyarakat bahwa harimau bukan ancaman, melainkan aset.
Gubernur Rahmat sudah menunjukkan teladan, kini saatnya semua pihak menjaga momentum ini agar Lampung benar-benar menjadi ikon pelestarian harimau sumatera di Indonesia. (*)
—————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network