Lappung – Saatnya sepak bola Lampung bangkit! Generasi muda, swasta dan semangat baru di tengah dukungan nasional.
Sepak bola bukan sekadar olahraga. Di tanah Lampung, ia adalah identitas dan kebanggaan masyarakat.
Baca juga : Duet Prabowo-Erick: Resep Emas Kebangkitan Sepak Bola Indonesia
Pernah berjaya di masa lalu, kini sepak bola Lampung berada di titik nadir, klub-klub terseok, infrastruktur tertinggal, dan talenta muda kehilangan arah. Namun, angin perubahan mulai berembus.
Menurut Mahendra Utama, pegiat dan penonton setia sepak bola Lampung, tanda-tanda kebangkitan itu nyata.
“Kita sedang berada di momentum emas. Ada generasi muda yang bergerak, ada kepedulian dari pemerintah daerah, dan sepak bola nasional sedang berada di titik reformasi,” ujarnya, Minggu, 22 Juni 2025.
Salah satu figur yang disebut Mahendra adalah Yoga Swara, tokoh muda yang terjun langsung membina sepak bola akar rumput.
Ia aktif menyambangi sekolah-sekolah sepak bola (SSB), berdialog dengan pelatih desa, dan menjaring bibit dari pelosok daerah.
Baca juga : Gubernur Mirza Pinang Bhayangkara FC, Dongkrak Sepak Bola Lampung
“Yoga bukan sekadar berbicara. Ia bertindak. Pengalamannya bersama Bhayangkara FC ia bawa pulang ke Lampung,” kata Mahendra.
Upaya Yoga kini menjangkau aspek infrastruktur. Stadion Sumpah Pemuda di Way Halim tengah direhabilitasi menyeluruh sebagai calon markas resmi Bhayangkara FC.
“Stadion itu bukan sekadar proyek, tapi simbol kebangkitan. Bayangkan ribuan orang berkumpul menyanyikan yel-yel Lampung, anak-anak sekolah kembali punya mimpi,” tambahnya.
Kebangkitan ini, lanjut Mahendra, sejalan dengan arah baru PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir.
Ia menyebut reformasi sepak bola nasional hari ini didukung penuh oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Lampung tidak boleh tertinggal. Ini saat yang tepat untuk terhubung langsung dengan pusat,” ujar Mahendra.
Ia juga menyoroti munculnya kepemimpinan muda di Provinsi Lampung sebagai faktor penting.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Ketua DPRD Ahmad Giri Akbar disebutnya sebagai representasi pemimpin muda yang memahami pentingnya olahraga.
“Mereka bukan hanya bicara jalan dan jembatan, tapi juga tentang karakter dan kebanggaan lewat sepak bola,” katanya.
Baca juga : Asprov PSSI Libatkan Bhayangkara FC dan Timnas Latih SSB Se-Lampung
Peran Dinas Pemuda dan Olahraga juga diapresiasi. Kepala Dinas, Decatama Paksi Moeda, menurut Mahendra, mampu menjembatani kebijakan dan kebutuhan masyarakat.
“Dia bukan hanya birokrat, tapi eksekutor. Kompetisi usia dini digerakkan, infrastruktur diperbaiki, bahkan rencana akademi sepak bola berbasis provinsi mulai dibahas,” jelasnya.
Namun, Mahendra menekankan bahwa pemerintah saja tidak cukup. Ia mendorong keterlibatan sektor swasta.
“Sepak bola adalah ruang investasi sosial. Perusahaan-perusahaan lokal harus ambil bagian sebagai sponsor, pembina, atau bahkan pemilik klub. Ini soal citra, loyalitas komunitas, dan ekonomi lokal,” ujarnya.
Saatnya Sepak Bola Lampung Bangkit!
Menurut Mahendra, Lampung punya semua komponen untuk bangkit:
- Bakat muda yang melimpah
- Infrastruktur yang mulai diperbaiki
- Gerakan akar rumput oleh figur seperti Yoga Swara
- Kepemimpinan muda di pemerintahan
- Mesin birokrasi yang aktif dan progresif
- Dukungan dari PSSI dan pemerintah pusat
“Sekarang tinggal satu: kemauan kita semua. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” tutup Mahendra.
Baca juga : Mencari Stabilitas di Lampung, Bhayangkara FC Tak Lagi Klub Keliling
