Lappung – Puisi “Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai” karya Mahendra Utama merupakan sebuah penghormatan terhadap satu tahun perjalanan kepemimpinan tokoh yang disebut sebagai “Mirza dan Jihan“.
Puisi ini menggambarkan kepemimpinan bukan sekadar sebagai kekuasaan, melainkan sebagai amanah Ilahiah yang dijalankan dengan prinsip religius dan nilai-nilai luhur budaya Lampung.
Penulis menonjolkan kepekaan pemimpin terhadap nasib rakyat kecil, khususnya petani dan kaum dhuafa, serta upaya mereka melobi pusat kekuasaan demi pembangunan daerah.
Lebih jauh, puisi ini sangat kental dengan nuansa kearifan lokal Lampung (Falsafah Piil Pesenggiri).
Penulis memadukan doa dan harapan agar Lampung menjadi negeri yang makmur (Baldatun Thayyibatun) dengan penerapan nilai-nilai adat seperti Sakai Sambayan (gotong royong), Nengah Nyappur (berbaur dengan masyarakat), dan Nemui Nyimah (keramahtamahan).
Inti dari puisi ini adalah optimisme bahwa satu tahun ini hanyalah permulaan (waktu subuh) dari perjuangan panjang untuk mengangkat martabat Lampung melalui pemimpin yang merakyat, amanah, dan bertakwa.
SATU TAHUN KHIDMAT: EMBUN BAGI BUMI RUWA JURAI
Karya: Mahendra Utama
Bismillah di Setiap Langkah
Di bawah panji rida Sang Maha Kuasa,
Satu tahun sudah tapak dijejakkan.
Bukan sekadar mengejar singgasana,
Tapi memikul amanah yang Allah titipkan.
Mirza dan Jihan, sakai sambayan dalam doa,
Meniti jalan panjang pengabdian mulia.
Seperti Ratu Tumi Apung yang bijaksana,
Memimpin dengan hati penuh rahmat Illahi.
Di Garis Sawah dan Keringat Petani
Tangan kalian menggenggam jemari yang kasar,
Mendengar keluh di antara bulir padi yang menguning.
Sebab kalian tahu perut lapar adalah ujian yang berat,
Maka nasib hulun sesenggiran tak lagi terombang-ambing.
Pupuk dan harapan disemai dengan tawakal,
Agar lumbung si Bumi Ruwa Jurai penuh berkah,
Seperti nenek moyang yang rajin dan tekun,
Menjaga bumi dengan penuh amanah.
Mengetuk Pintu Langit dan Istana
Langkah kalian melaju ke pusat kekuasaan,
Membawa suara rakyat yang lama terpendam.
Melobi dengan hikmah dan kesabaran,
Agar cahaya pembangunan menyinari Ulun Lampung.
“Perhatikan Lampung!” menjadi dzikir perjuangan,
Menjemput keadilan di setiap lobi dan kebijakan.
Seperti piil pesenggiri yang mengajarkan kehormatan,
Kalian tegakkan martabat dengan penuh keimanan.
Cahaya di Pekon dan Kaum Dhuafa
Kaki kalian ringan melangkah ke pekon-pekon terpencil,
Menyeka air mata sedulur muli-meghanai yang terpinggirkan.
Meningkatkan kehidupan dengan hati yang ikhlas,
Sebab memuliakan fakir miskin adalah perintah Allah.
Pedesaan kini berbenah, mencari cahaya martabat,
Berjalan perlahan menuju masyarakat yang berkah dan maslahat.
Dengan semangat juluk adok dan nengah nyappur,
Bergotong royong membangun kampung halaman.
Penutup: Doa untuk Lampung
Satu tahun barangkali barulah subuh,
Masih panjang jalan mendaki yang harus ditempuh.
Semoga Allah SWT menjaga niat agar tetap lurus dan tabah,
Hingga Lampung menjadi tanah Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.
Teruslah berkhidmat, wahai pemimpin muda,
Menjadi payung teduh bagi masyarakat Lampung yang beriman.
Seperti pesan pi’il pesenggiri:
Nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambayan, juluk adok
Menjadi pemimpin yang merakyat, rendah hati, saling membantu,
Dan menjunjung tinggi kehormatan di jalan Allah.
Allahumma amin, Ya Rabbal ‘Alamin.




Lappung Media Network