Lappung – Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mengambil langkah strategis dengan menyiapkan lahan seluas 1.335 hektare untuk dijadikan pilot project atau proyek percontohan pertanian cerdas (smart farming) berskala nasional.
Kebijakan ini dinilai sebagai terobosan visioner untuk masa depan sektor pertanian di Indonesia.
Baca juga : Lampung Selatan Menuju Kabupaten Termaju
Langkah yang dipimpin oleh Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, itu menuai apresiasi dari berbagai kalangan.
Salah satunya datang dari pemerhati pembangunan, Mahendra Utama.
“Keberanian Bupati menjadikan Lampung Selatan sebagai pilot project smart farming nasional adalah sebuah taruhan nyata untuk masa depan petani kita, bukan sekadar janji kampanye,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 1 Oktober 2025.
Menurut Mahendra, lahan ribuan hektare yang disiapkan tersebut akan berfungsi sebagai laboratorium hidup.
Di sana, para petani dapat belajar dan beradaptasi dengan teknologi pertanian modern, sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor agrikultur.
“Ini adalah tempat generasi muda melihat bahwa bertani itu keren dan menguntungkan. Dari sinilah Indonesia bisa membuktikan kemampuannya,” tambahnya.
Potensi dan Tantangan Pertanian Digital
Smart farming merupakan konsep pertanian yang mengintegrasikan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Mahendra menjelaskan, teknologi seperti sensor Internet of Things (IoT), analisis data, hingga sistem irigasi pintar memungkinkan lahan pertanian untuk “berbicara” langsung kepada petani.
“Bayangkan sawah memberi tahu kapan tanah kehausan, kapan pupuk cukup, atau kapan hama mulai menyerang.
“Inilah jawaban nyata untuk tantangan pangan masa depan lebih efisien, hemat air, dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Meski Indonesia telah memulai beberapa inisiatif, seperti kerja sama IPB dan Wageningen serta pengembangan sistem pintar oleh UMN dan UGM di Sleman, implementasinya secara nasional masih menghadapi tantangan besar.
“Jujur saja, cerita sukses ini masih sporadis. Kita masih bergulat dengan infrastruktur yang lemah, tingkat adopsi teknologi oleh petani yang rendah, dan skala usaha tani yang terlalu kecil untuk investasi digital,” papar Mahendra.
Belajar dari Negara Tetangga
Mahendra membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara tetangga yang telah berlari kencang.
Baca juga : Kalahkan Morowali, Kualitas Udara Lampung Selatan Terbaik di Tanah Air
Vietnam, misalnya, telah sukses menggunakan drone di Delta Mekong untuk menghasilkan beras ramah lingkungan yang diminati pasar ekspor.
Sementara itu, Tiongkok dan India secara masif mengadopsi big data, AI, dan aplikasi smartphone untuk menjamin ketahanan pangan miliaran penduduknya.
“Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak? Lampung memiliki potensi yang sangat besar untuk mengadopsi teknologi ini,” tegasnya.
Ia merinci, komoditas unggulan Lampung seperti padi, sayuran, buah-buahan, kopi, kakao, dan lada dapat ditingkatkan produktivitas dan kualitasnya melalui data presisi dari smart farming.
Harapan dari Lampung Selatan
Keberhasilan proyek di Lampung Selatan diyakini akan menjadi mercusuar bagi daerah lain di Indonesia.
Jika berhasil, model ini dapat direplikasi dan menciptakan efek domino yang positif bagi sektor pertanian nasional.
“Jika di sini berhasil, petani kita tidak lagi dipandang sebelah mata dan kedaulatan pangan bukan lagi sekadar slogan kosong,” kata Mahendra.
Ia menutup dengan ajakan kolaborasi kepada seluruh pihak mulai dari petani, pemuda desa, penyuluh, hingga akademisi untuk mendukung proyek ini.
“Teknologinya ada, contoh suksesnya banyak, dan pemimpin yang peduli juga sudah ada.
“Mari kita buktikan bahwa Lampung tidak hanya dikenal sebagai penghasil kopi robusta, tetapi juga sebagai pelopor pertanian masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Baca juga : Radin Inten Bisa Jadi Hub Udara




Lappung Media Network