Lappung – Mendengar sosok Imam Abu Abdillah Malik ibn Anas atau Imam Malik mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat muslim di Indonesia.
Baca Juga : Syekh Yusri Hafidzahullah Ta’ala Wa ra’ah Menjelaskan Soal Rezeki
Beliau merupakan guru dari panutan masyarakat muslim Nusantara yang lahir di Madinah pada 95 H, dan wafat pada 179 Hijriyah (795 Masehi).
Imam Malik merupakan guru dari Imam Syafi’i rhm. Kali ini lappung.com akan menceritakan tentang dua Imam Mazhab mengambil dua hukum berbeda dari hadits yang sama tentang masalah rezeki.
Dikutif dari laman Twitter dari akun @Alie_Fahnoor, cerita ini dimulai saat
Imam Malik berkata kepada muridnya Imam Syafi’i rhm.
Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki.
“Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya,” kata Imam Malik.
Kendati demikian, sang murid, Imam Syafi’i rhm tidak setuju dengan pendapat gurunya seraya berkata, “seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?,” tanya Imam Safi’i kepada gurunya.
Kemudian, guru dan murid itu tetap bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing. Suatu ketika Imam Syafi’i rhm keluar berjalan dan melihat serombongan petani tengah memanen anggur.
Saat itu, sang murid membantu para petani tersebut untuk memanen. Setelah pekerjaan membantu petani selesai, Imam Syafi’i memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.
Saat itu, Imam Syafi’i kegirangan. Namun, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya.
Jika burung tidak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Maka, seandainya dia tidak membantu, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.
Lalu, beliau (Imam Syafi’i) bergegas menjumpai gurunya sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya.
Beliau bercerita dengan sedikit mengeraskan bagian kalimat “seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu petani memanen anggur), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai ditangan saya,” jelas sang murid kepada gurunya.
Mendengar hal itu, gurunya tersenyum, seraya mengambil dan mencicipi anggur tersebut.
Setelah itu, Imam Malik berkata, sehari ini aku memang tidak keluar, hanya mengambil tugas sebagai guru dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur.
Kemudian, tiba-tiba kamu (Imam Syafi’i) datang sambil membawakan beberapa ikat anggur segar untukku.
Ini merupakan bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawwakal yang benar kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki?
Baca Juga : Lafadz Niat Puasa Sunnah Senin Kamis
Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya. Kemudian, guru dan murid tersebut saling tertawa.
Begitulah cara ulama bila melihat perbedaan. Bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.
Wallahualam Bissawab





Lappung Media Network