Lappung.COM – Koperasi Sabalam (Sarana Bangun Lampung), dengan strategi jitu mampu tembus pasar ekspor rempah global. Menjalin kerja sama dengan petani.
Strategi Jitu Sabalam Tembus Pasar Ekspor Rempah Global
Oleh: Mahendra Utama*
Dana Bergulir sebagai Katalis Pertumbuhan
Kisah Sabalam adalah bukti bahwa akses pembiayaan yang tepat sasaran mampu mengubah wajah koperasi.
Sejak memperoleh dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) pada 2022, koperasi ini bertransformasi dari entitas lokal yang serba terbatas menjadi pemain rantai pasok global.
Dana tersebut digunakan untuk penguatan modal kerja, termasuk pembelian hasil panen petani secara tunai dan menjaga kesinambungan pasokan ke eksportir.
Ini sejalan dengan argumen ekonom pembangunan bahwa inklusi keuangan bagi koperasi pertanian adalah kunci membuka potensi ekspor daerah.
Menteri Perdagangan Budi Santoso pun menegaskan, “Yang bisa ekspor tidak hanya perusahaan besar tetapi UMKM, Koperasi Merah Putih juga harus bisa ekspor.”
Menembus Pasar Internasional
Berkat kemitraan dengan CV SSI, produk rempah Sabalam kini menembus pasar ekspor ke berbagai negara.
Meskipun data tujuan ekspor persisnya masih terbatas dalam laporan yang tersedia, jejaring ekspor SSI yang telah mapan menjadi jembatan bagi komoditas petani Lampung menuju pasar global.
Diversifikasi komoditas dari lada, pala, hingga cabai jawa menjadi strategi mitigasi risiko sekaligus memperbesar peluang penetrasi pasar yang berbeda.
Dalam perspektif perdagangan internasional, keberhasilan ini menunjukkan bahwa koperasi mampu menjawab tantangan standarisasi mutu dan konsistensi volume, yang selama ini menjadi hambatan utama produk pertanian rakyat memasuki pasar ekspor.
Sistem pembinaan klaster yang diterapkan Sabalam memastikan kualitas produk terjaga dari hulu hingga siap ekspor.
Dampak bagi Petani dan Ekonomi Lokal
Dampak paling signifikan dari model Sabalam adalah peningkatan kesejahteraan petani. Pembayaran tunai di muka menghilangkan ketergantungan petani pada tengkulak yang kerap menekan harga.
Kepastian pasar memberi insentif bagi petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas.
Dengan lebih dari ratusan kelompok tani yang dibina di tiga kabupaten, efek pengganda (multiplier effect) terhadap ekonomi pedesaan Lampung tidak bisa diabaikan.
Kisah Sabalam memperkuat tesis bahwa koperasi modern, bila dikelola dengan tata kelola profesional dan didukung kebijakan pembiayaan afirmatif, dapat menjadi instrumen efektif dalam mengintegrasikan petani kecil ke dalam rantai nilai global.
Lebih dari itu, koperasi ini membuktikan bahwa ekspor bukanlah monopoli korporasi besar semata. (*)
————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
