Lappung – Industri udang Provinsi Lampung pada tahun 2025 menunjukkan performa impresif meski sempat diterpa isu keamanan pangan global.
Strategi penguatan pasar domestik dan modernisasi tambak dinilai menjadi faktor kunci bertahannya komoditas unggulan Bumi Ruwa Jurai tersebut.
Baca juga : Udang Lampung Kembali Melaut ke Amerika, Kepercayaan Pasar Pulih
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebutkan bahwa Lampung berhasil melakukan transformasi besar.
Ketergantungan pada pasar ekspor mulai diimbangi dengan skema ketahanan pangan lokal yang solid.
“Industri udang kita tidak lagi rapuh. Ada dua penopang utama tahun ini, yakni intervensi teknologi pihak swasta di hulu dan jaminan pasar pemerintah di hilir,” ungkap Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 16 Januari 2026.
Modernisasi Dipasena oleh PT SBI
Mahendra menyoroti peran vital sektor swasta dalam memulihkan sentra produksi, khususnya di kawasan Bumi Dipasena, Tulang Bawang.
Kehadiran PT Sakti Biru Indonesia (SBI) sebagai integrator dianggap berhasil menghidupkan kembali ekosistem tambak yang sempat meredup.
Menurut Mahendra, PT SBI menerapkan pendekatan menyeluruh, bukan sekadar kemitraan dagang.
Pengelolaan kawasan kini berbasis teknologi modern, mencakup penyediaan hatchery, laboratorium PCR untuk deteksi dini virus, hingga fasilitas cold storage untuk menjaga kualitas pascapanen.
“Kolaborasi tersebut menekan risiko kegagalan panen yang selama ini menghantui petambak mandiri.
“Standarisasi budidaya yang dibawa PT SBI membuat produksi lebih stabil dan berkelanjutan,” jelasnya.
Menu Makan Bergizi Gratis
Terobosan lain yang mendapat sorotan Mahendra adalah integrasi udang Vaname ke dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga : Potensi Ekonomi Lampung yang Menunggu Sentuhan
Kebijakan tersebut dinilai efektif menjadi katup pengaman harga di tingkat petambak.
Saat permintaan global melemah, program MBG mampu menyerap produksi lokal dalam volume besar.
Langkah Pemerintah Provinsi Lampung memperluas business matching ke sektor perhotelan dan jasa boga nasional turut memperkuat rantai pasok domestik tersebut.
“Masuknya udang ke menu MBG bukan hanya soal gizi, melainkan strategi ekonomi. Kebijakan itu menjaga harga tetap kompetitif bagi petambak rakyat,” tambah Mahendra.
Green Branding
Terkait pasar internasional, Mahendra mengapresiasi visi Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang mengusung konsep pembangunan berkelanjutan.
Program rehabilitasi mangrove yang digencarkan pemerintah daerah kini menjadi nilai tawar tinggi atau green branding di pasar global.
Dampaknya mulai terasa dengan pulihnya kepercayaan pasar Amerika Serikat.
Data akhir 2025 mencatat pengiriman ekspor kembali menembus angka ratusan ton, menandakan standar biosecurity Lampung telah memenuhi kriteria ketat internasional.
Mahendra juga memuji langkah diversifikasi pasar ke Tiongkok dan Timur Tengah sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada satu negara tujuan ekspor.
“Gubernur Rahmat Mirzani Djausal meletakkan fondasi kuat.
“Dukungan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan penerapan smart farming membuat masa depan udang Lampung jauh lebih cerah dan tidak lagi berspekulasi,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Pertama di Indonesia, Lampung Inisiasi Budidaya Udang Vaname Air Tawar





Lappung Media Network