Lappung – Di tengah citranya yang lekat dengan industri rokok, tanaman tembakau (Nicotiana) ternyata menyimpan potensi besar di bidang kesehatan dan kecantikan.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia melirik hilirisasi tembakau menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti obat-obatan hingga kosmetik anti-penuaan.
Baca juga : Sebatang Asa untuk Tuan Tembakau, Karya: Mahendra Utama
Menurutnya, memandang tembakau hanya sebagai bahan baku rokok adalah sebuah kekeliruan yang merugikan.
“Selama ini kita hanya terpaku pada tembakau sebagai bahan baku rokok.
“Padahal, jika dikelola dengan riset dan teknologi yang tepat, tembakau bisa menjadi solusi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari terapi berhenti merokok hingga bahan aktif kosmetik,” ujar Mahendra Utama, Rabu, 15 Oktober 2025.
Nikotin: Candu Menjadi Terapi
Salah satu potensi terbesar tembakau, kata Mahendra, justru untuk membantu perokok lepas dari kecanduannya melalui Nicotine Replacement Therapy (NRT).
Produk seperti koyo nikotin, permen karet, hingga tablet hisap mengandung nikotin murni yang diekstraksi dari tembakau, namun tanpa kandungan tar dan zat berbahaya lain dari asap pembakaran.
“Metode ini bekerja dengan mengurangi gejala sakau secara signifikan, karena nikotin murni merangsang reseptor di otak tanpa efek destruktif dari rokok.
“Jutaan orang di dunia telah berhasil berhenti merokok dengan cara ini,” jelasnya.
Rahasia Awet Muda dari Ekstrak Daun Tembakau
Tak hanya di bidang medis, industri kosmetik global juga mulai melirik tembakau sebagai harta karun untuk produk anti-penuaan.
Mahendra memaparkan bahwa ekstrak daun tembakau kaya akan antioksidan yang terbukti mampu melawan radikal bebas penyebab penuaan dini.
“Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Prommaban dan timnya pada 2022, menyimpulkan ekstrak tembakau punya potensi besar untuk produk cosmeceutical.
“Ekstrak ini mampu menghambat enzim elastase dan hyaluronidase, dua pemicu utama keriput dan kulit kendur,” paparnya.
Bahkan, bahan turunan seperti tobacco resinoid (ekstrak pekat tembakau) kini digunakan dalam gel dan krim karena efek antibakterinya yang mampu melawan bakteri penyebab jerawat.
“Nenek moyang kita bahkan sudah lebih dulu memanfaatkannya.
“Air rebusan daun tembakau secara tradisional digunakan sebagai obat luar untuk mengobati penyakit kulit seperti kudis,” tambah Mahendra.
Tantangan Hilirisasi: Stigma dan Regulasi Ketat
Meski potensinya besar, Mahendra mengakui jalan menuju hilirisasi tembakau non-rokok tidaklah mulus.
Baca juga : Tembakau Jember: Napas Ekonomi Nusantara
Ada beberapa tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia.
- Keamanan dan Standardisasi: Nikotin dalam dosis tinggi bersifat toksik. Oleh karena itu, setiap produk turunan tembakau harus melalui uji keamanan yang ketat dan mahal untuk mendapatkan sertifikasi dari lembaga seperti BPOM.
- Stigma dan Regulasi: Produk turunan tembakau berisiko disamakan dengan rokok, sehingga dapat dikenai cukai tinggi dan pembatasan iklan yang menghambat inovasi.
- Modal dan Riset: Dibutuhkan investasi besar untuk mengembangkan teknologi ekstraksi, formulasi produk yang aman, serta melakukan riset berkelanjutan.
- Risiko Ketergantungan: Produk yang mengandung nikotin tetap memiliki potensi adiktif jika tidak digunakan sesuai anjuran medis.
“Tantangan ini nyata, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi.
“Justru ini adalah peluang strategis untuk diversifikasi ekonomi tembakau yang lebih berkelanjutan dan pada akhirnya menyejahterakan petani lokal,” tegasnya.
Mahendra mendorong pemerintah, akademisi, dan sektor swasta untuk berkolaborasi dalam mengembangkan peta jalan hilirisasi tembakau.
“Jika negara-negara maju sudah bergerak meneliti dan memanfaatkan tembakau untuk produk kesehatan bernilai tinggi, kita sebagai salah satu produsen terbesar di dunia jangan sampai tertinggal.
“Potensinya ada di depan mata, tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan serius,” tutupnya.
Baca juga : Menyelamatkan Warisan Tembakau Jember
