Lappung – Di tengah gemilangnya reputasi tembakau Jember di pasar cerutu dunia, muncul sorotan tajam terhadap peran PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dalam menyeimbangkan kontribusi devisa negara dengan martabat para pekerjanya.
Sebagai pemain kunci dalam ekspor tembakau kualitas premium, BUMN ini didorong untuk menjadi jangkar keadilan sosial bagi puluhan ribu keluarga yang menggantungkan hidupnya di kebun.
Baca juga : Capaian Gemilang dan Keberlanjutan Strategis PTPN Holding
Penikmat sekaligus pengamat cerutu Jember, Mahendra Utama, menekankan bahwa di balik daun tembakau jenis “Besoeki” dan “Bawah Naungan” (TBN) yang diekspor ke Eropa, terdapat realitas sosial yang rapuh.
Fluktuasi musim, ketidakpastian harga, dan pola kerja musiman membuat kehidupan para pekerja kebun, yang mayoritas adalah perempuan, rentan secara ekonomi.
“Hamparan tembakau di Ajong Gayasan dan Kertosari bukan sekadar lanskap, ia adalah sejarah dan penopang hidup.
“Namun, kejayaan rasa seringkali tak sebanding dengan sejahtera di kampung asal,” ujar Mahendra, Jumat, 22 Agustus 2025.
Menurutnya, PTPN memiliki tanggung jawab ganda, menjaga mutu ekspor yang menjadi warisan sejarah sekaligus memastikan para pekerja yang menanam, memetik, dan mengikat daun-daun tersebut hidup dengan layak.
Kontribusi Devisa
Peran PTPN sebagai mesin devisa dari sektor tembakau tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sejak era nasionalisasi, PTPN konsisten menjaga kualitas dan volume ekspor.
Baca juga : PTPN I Pasca Transformasi: Jejak Keberhasilan dan Tantangan Ke Depan
Data historis menunjukkan komitmen tersebut. Pada tahun 2013, PTPN menargetkan ekspor 1.685 ton tembakau dengan nilai pendapatan mencapai Rp296,5 miliar.
Angka tersebut terus berlanjut, seperti pada musim tanam 2021/2022, di mana PTPN X berhasil mengekspor 86.054 kg Tembakau Bawah Naungan (TBN) ke pasar Eropa.
Secara lebih luas, kontribusi Jember sangat signifikan bagi neraca perdagangan Jawa Timur.
Data UPT PSMB–Lembaga Tembakau Jember (Disperindag Jatim) mencatat, total ekspor tembakau dari Jember pada 2023 mencapai 3.028 ton dengan nilai sekitar US$31,95 juta atau setara Rp500 miliar.
“PTPN adalah pemain kunci dalam arus ekspor tersebut, khususnya untuk segmen daun pembungkus dan pengikat cerutu premium.
“Kontribusi devisanya konkret dan vital bagi negara,” jelas Mahendra.
3 Agenda Mendesak
Meskipun kontribusi ekonominya besar, Mahendra Utama mengusulkan 3 agenda strategis yang harus segera dijalankan PTPN untuk mengangkat martabat para pekerjanya.
1. Standar Perlindungan Kerja yang Humanis
Mayoritas pekerja kebun tembakau adalah perempuan.
Mahendra mendorong PTPN untuk menciptakan skema perlindungan kerja musiman yang jelas, meliputi akses layanan kesehatan ibu dan anak, fasilitas penitipan anak di lokasi kerja selama musim panen, serta dukungan gizi.
“Produktivitas tidak boleh dibayar dengan keletihan yang menahun,” tegasnya.
2. Modernisasi yang Berpihak pada Pendapatan
Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) agronomi modern dan ketertelusuran produk (traceability) harus sejalan dengan peningkatan pendapatan pekerja.
Ia mengusulkan skema bagi hasil atau insentif berbasis mutu yang transparan.
“Kualitas wrapper kelas ekspor harus berbanding lurus dengan upah dan bonus yang diterima pekerja di tingkat paling bawah,” katanya.
3. Membangun Ekosistem Nilai Tambah Lokal
PTPN diusulkan untuk memperkuat hilirisasi di Jember.
Proses seperti penyortiran (grading), penggulungan (bobbin), hingga layanan lelang dan penyimpanan berstandar internasional bisa dikembangkan secara lokal.
Tujuannya agar sebagian besar nilai tambah dari rantai pasok tembakau tetap tinggal di Jember, tidak hanya lewat sebagai bahan mentah.
Baca juga : PTPN di Era Danantara
Menjaga Warisan, Memuliakan Manusia
Mahendra menyimpulkan bahwa tolak ukur keberhasilan PTPN di masa depan tidak hanya terletak pada tingginya harga lelang di Bremen, Jerman, tetapi juga pada meningkatnya kualitas hidup para pekerjanya.
“Cerutu Jember dikagumi dunia karena rasanya yang halus. Kini saatnya kita memastikan bahwa manusia di baliknya juga dimuliakan.
“Devisa yang kuat harus berpadan dengan martabat yang terjaga,” tutupnya.
Panggilan ini menjadi pengingat bahwa tembakau Jember bisa menjadi contoh ideal bagaimana sebuah BUMN mampu berdiri kokoh di dua kaki, kompetitif di pasar global, sekaligus menjadi agen kesejahteraan bagi masyarakat yang merawat warisan tersebut.
Baca juga : Jejak 1 Tahun Hygreen, Produk Anak PTPN Group di Pasar Nasional
