Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Kota Metro Naik Kelas, Pusat Kuliner Baru Lampung?
Kota Metro Naik Kelas, Pusat Kuliner Baru Lampung?
Oleh: Mahendra Utama*
Benarkah Kota Metro dalam setahun terakhir tiba-tiba menjelma menjadi pusat jajanan kuliner baru penyaing Bandar Lampung? Klaim ini perlu diurai secara objektif. Faktanya, Metro tidak “tiba-tiba” menjadi destinasi kuliner.
Warisan gastronomi seperti Sate Pak Saleh dan Pindang Baung justru membuktikan bahwa fondasi kuliner kota ini sudah kuat sejak puluhan tahun lalu. Yang terjadi saat ini bukanlah kelahiran, melainkan akselerasi dan transformasi digital.
Bukan Fenomena Satu Tahun, Melainkan Kurasi Pasar
Fenomena menjamurnya cafe dan restoran baru di Metro bukan terjadi dalam ruang hampa. Ini adalah efek domino dari membaiknya infrastruktur dan jenuhnya pasar.
Dari Legenda hingga Instagrammable
Keberadaan Pindang Baung dan Sate Pak Saleh adalah bukti autentisitas. Namun, wajah kuliner Metro kini dilengkapi oleh kafe modern. Secara teori Siklus Hidup Destinasi Wisata (Butler), Metro sedang bertransisi dari tahap involvement (keterlibatan) menuju development (pembangunan).
Ikoni legendaris adalah daya tarik awal, namun kafe baru adalah elemen amenitas yang memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Teori Kelas Kreatif
Menjamurnya kafe independen di Metro menandakan bangkitnya “kelas kreatif”. Richard Florida dalam The Rise of the Creative Class menekankan bahwa kota yang ramah terhadap kreativitas akan mengalami lompatan ekonomi.
Kafe bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan “ruang ketiga” untuk berjejaring dan melahirkan ide.
“Akses ke talenta dan toleransi terhadap gaya hidup baru adalah motor penggerak ekonomi modern,” ujar Richard Florida.
Metro kini menjadi melting pot bagi anak muda Lampung yang mencari suasa urban tanpa harus terjebak kemacetan Bandar Lampung.
Data Lapangan dan Positioning
Meski belum menyalip Bandar Lampung secara volume ekonomi, Metro memenangkan kontestasi dari sisi experience.
Biaya operasional yang lebih rendah memungkinkan pelaku usaha di Metro menawarkan konsep unik dengan harga lebih kompetitif.
Lokasi geografisnya yang strategis di tengah Provinsi Lampung menjadikannya titik temu ideal dari berbagai kabupaten.
Jadi, klaim “berkembang pesat” itu benar, namun dengan konteks bahwa Metro adalah pusat gravitasi baru, bukan sekadar fenomena sesaat satu tahun terakhir. (*)
————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.
