Lappung – Rahasia merah dan hijau jadi simbolisme Natal yang bertahan berabad-abad
Merah dan hijau telah lama menjadi warna yang identik dengan Natal.
Baca juga : Bulog Lampung Pastikan Tak Ada Krisis Pangan Saat Perayaan Natal dan Tahun Baru
Dari lingkaran holly yang menghiasi pintu hingga pakaian ceria Sinterklas, kedua warna ini menambah keceriaan perayaan.
Namun, apa sebenarnya yang membuat merah dan hijau menjadi simbol Natal yang bertahan hingga sekarang?
Menurut Arielle Eckstut, penulis The Secret Language of Color, sejarah hubungan warna-warna ini dengan Natal tidak sepenuhnya jelas.
Namun, tanaman holly dengan daun hijau abadi dan buah beri merah cerah diduga memiliki peran penting.
Holly sering digunakan dalam perayaan titik balik matahari musim dingin, sebuah tradisi yang mendahului penyebaran agama Kristen.
Peran Iklan dalam Budaya Natal
Meski berasal dari tradisi kuno, hubungan kuat antara merah-hijau dan Natal baru benar-benar mengakar pada abad ke-20, berkat iklan.
Baca juga : Mudik Aman, Kenali 45 Titik Kecelakaan dan 36 Titik Macet di Lampung
Coca-Cola menjadi salah satu pelopor dalam mengukuhkan warna ini melalui kampanye iklan tahun 1930-an.
Haddon Sundblom, seorang seniman, menciptakan ilustrasi Sinterklas gemuk, periang, dan berpakaian merah yang kini menjadi ikon.
Direktur arsip Coca-Cola, Justine Fletcher, mengungkapkan bahwa gambar ini memanfaatkan puisi klasik A Visit From StbNicholas sebagai referensi.
Popularitas iklan tersebut membuat citra Sinterklas merah menjadi simbol global yang melekat hingga kini.
Tradisi Gereja dan Abad Pertengahan
Merah dan hijau juga memiliki akar dalam gereja-gereja Abad Pertengahan di Eropa.
Dr Spike Bucklow dari Universitas Cambridge menyebutkan bahwa layar kayu yang memisahkan altar di gereja sering dihias dengan kedua warna ini.
Hal ini diyakini melambangkan batas antara dunia fana dan surgawi, menjadikannya simbol transisi antara tahun lama dan tahun baru.
Di Inggris, drama keagamaan yang dipentaskan untuk masyarakat yang buta huruf selama Abad Pertengahan juga memperkuat penggunaan merah dan hijau.
Salah satu lakon populer adalah kisah Adam dan Hawa, di mana pohon cemara dihias dengan apel merah, simbol dosa asal.
Akar Pagan dan Pengaruh Alam
Beberapa ahli melacak asal-usul warna ini ke perayaan Saturnalia di Roma kuno, sebuah festival pagan untuk menghormati dewa Saturnus pada 17-25 Desember.
Baca juga : Libur Nataru, Jalan Nasional Lampung Bebas Lubang
Daun holly, simbol abadi musim dingin, digunakan sebagai dekorasi.
Demikian pula, bangsa Celtic kuno merayakan titik balik matahari musim dingin dengan menggunakan holly sebagai penghias.
Kristen kemudian memberikan makna baru pada tradisi ini: hijau melambangkan kehidupan kekal, sedangkan merah melambangkan darah Kristus.
Rahasia Merah dan Hijau: Simbolisme Natal yang Bertahan Berabad-abad
Warna merah dan hijau tidak hanya estetis tetapi juga memiliki daya tarik biologis.
Menurut Eckstut, mata manusia secara alami tertarik pada kontras buah beri merah dan daun hijau.
“Warna selalu berfungsi sebagai peta,” ujarnya, menjelaskan bagaimana warna membantu manusia memahami dunia.
Kekuatan visual ini, ditambah dengan tradisi keagamaan dan pengaruh komersial, menjadikan merah dan hijau sebagai simbol Natal yang tak tergantikan.
Dari masa lalu hingga kini, merah dan hijau tetap menjadi elemen kunci yang menghidupkan semangat perayaan Natal di seluruh dunia.
Baca juga : PLN Lampung Pastikan Nataru 2025 Tanpa Pemadaman Listrik





Lappung Media Network