Lappung
Lappung Media Network Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    Lappung
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Nelayan Kampung Cabang Lamteng: Berjuang di Tengah Limbah dan Ilegalitas

    Nelayan Kampung Cabang Lamteng: Berjuang di Tengah Limbah dan Ilegalitas

    Irzon Dwi Darma by Irzon Dwi Darma
    27/01/2025
    in Gaya Hidup
    Lolos Verifikasi, Lamteng dan Tuba Jadi Sasaran Proyek Kampung Nelayan

    Agus Silaludin, nelayan sungai Way Seputih, asal Kampung Cabang, Kecamatan Bandar Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah. Foto: Yopie Pangkey

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Nelayan Kampung Cabang Lamteng berjuang di tengah limbah dan ilegalitas.

    Kampung Cabang, Kecamatan Bandar Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng), dikenal dengan keindahan alaminya yang berada di pertemuan 2 sungai besar, Way Pegadungan dan Way Seputih.

    Baca juga : Waspada! Gelombang Tinggi hingga 4 Meter Ancam Perairan Lampung

    Di balik pesona tersebut, tersimpan cerita perjuangan keras nelayan sungai yang menggantungkan hidupnya pada arus Way Seputih.

    Agus Silaludin (54), seorang nelayan sungai, adalah salah satu dari banyak warga Kampung Cabang yang harus bertaruh hidup setiap hari.

    “Sungai ini tenang di permukaan, tapi arusnya deras. Begitu juga hidup kami.

    “Kelihatannya damai, tapi sebenarnya penuh perjuangan,” ujar Agus, dikutip pada Senin, 27 Januari 2025.

    Dari Laut ke Sungai

    Agus tidak langsung menjadi nelayan sungai. Kehidupannya sempat berlayar jauh, mulai dari nelayan laut hingga pekerja tambak udang.

    “Saya pernah mendirikan bagan tancap untuk menangkap ikan di laut, tapi roboh karena faktor cuaca.

    “Dari situ, saya beralih menjadi nelayan sungai sejak 2006,” kenangnya.

    Baca juga : KKP Libatkan PPATK Buru Aset Penyelundup Lobster Lampung

    Kini, Agus mengandalkan rumpon, alat tangkap sederhana berbahan kayu dan jaring untuk menangkap udang di tepian sungai.

    “Kalau beruntung, saya bisa dapat 20 kilogram udang dalam sehari, tapi itu jarang. Rata-rata hanya 5-6 kilogram. Kadang malah tidak dapat apa-apa,” katanya.

    Harga udang yang diperoleh bervariasi. Udang kecil dihargai Rp40 ribu per kilogram, ukuran sedang Rp70 ribu, dan yang besar mencapai Rp120 ribu.

    Selain udang, ikan seperti kakap, betutu, hingga kepiting bakau menjadi tangkapan tambahan yang membantu menopang kebutuhan keluarganya.

    Limbah dan Alat Tangkap Ilegal

    Namun, hidup sebagai nelayan sungai bukan tanpa tantangan.

    Agus dan nelayan lain menghadapi masalah serius berupa limbah pabrik yang mencemari sungai dan membunuh ekosistemnya.

    “Kami pernah demonstrasi besar-besaran ke bupati gara-gara limbah ini. Ikan di tambak habis mati semua,” ujarnya mengingat tragedi di era 1990-an.

    Tak hanya limbah, alat tangkap ilegal seperti setrum juga menjadi momok bagi para nelayan.

    Baca juga : Jurnalisme Warga, Jurus Baru Promosi Kelautan Lampung Timur

    “Setrum itu membunuh ikan kecil sampai besar. Kalau terus dibiarkan, lama-lama ekosistem sungai ini habis,” tambah Agus dengan nada kecewa.

    Nelayan Kampung Cabang Lamteng: Berjuang di Tengah Limbah dan Ilegalitas

    Bagi Agus, Way Seputih lebih dari sekadar aliran air. Sungai ini adalah sumber kehidupan bagi keluarganya.

    Bersama istrinya dan tiga anaknya, Agus mengandalkan hasil sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    “Kami hidup dari sungai. Kalau hasil tangkapan bagus, kami bisa bernapas lega. Kalau tidak, ya, harus putar otak,” ucapnya.

    Anak tertuanya yang sudah lulus SMK kini ikut membantu Agus menjadi nelayan.

    Namun, Agus menyadari, masa depan mereka bergantung pada kelestarian sungai.

    “Kalau sungainya rusak karena limbah atau setrum, habis sudah kehidupan kami,” katanya tegas.

    Harapan

    Nelayan Kampung Cabang Lamteng: Berjuang di Tengah Limbah dan Ilegalitas
    Agus saat menunjukkan hasil tangkapan udang di tepian sungai. Foto: Yopie Pangkey

    Melalui kisahnya, Agus berharap pemerintah dan masyarakat lebih peduli terhadap kondisi sungai dan ekosistemnya.

    Ia mengimbau agar semua pihak bersinergi menjaga kebersihan Way Seputih dan menindak tegas pelaku pencemaran serta pengguna alat tangkap ilegal.

    “Kalau sungai ini bersih, kami bisa hidup dengan layak. Ini bukan hanya untuk kami, tapi juga untuk generasi mendatang.

    “Sungai ini adalah warisan yang harus dijaga,” tutup Agus penuh harap.

    Baca juga : Pemuda Tani Lampung: Kebijakan Prabowo Dorong UMKM Jadi Pilar Ekonomi

    Tags: Agus SilaludinKampung CabangLampungLampung TengahNelayan SungaiSungai Way PegadunganSungai Way Seputih
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Modifikasi Cuaca Lampung, Ahli: Tak Akan Hentikan Banjir!

    Next Post

    BKN Perketat Aturan ASN: Tak Patuhi 10 Tahun, Dianggap Mundur!

    Related Posts

    Mengenal Keris sebagai Warisan Budaya Nusantara
    Gaya Hidup

    Mengenal Keris sebagai Warisan Budaya Nusantara: Nilai Sejarah, Seni dan Filosofi yang Sarat Makna

    30/05/2026
    5 Cara Menghilangkan Bau Mulut Permanen
    Gaya Hidup

    5 Cara Menghilangkan Bau Mulut Permanen: Solusi Tepat dan Tepercaya

    29/05/2026
    Inilah 6 Perbedaan BPJS dan Asuransi Swasta
    Gaya Hidup

    Inilah 6 Perbedaan BPJS dan Asuransi Swasta yang Wajib Anda Tahu!

    28/05/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Inilah 6 Perbedaan BPJS dan Asuransi Swasta

      Inilah 6 Perbedaan BPJS dan Asuransi Swasta yang Wajib Anda Tahu!

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • 5 Cara Menghilangkan Bau Mulut Permanen: Solusi Tepat dan Tepercaya

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Jejak Hilirisasi di Tiga Desa: Mengawal Mesin Pengering, Menuai Kesejahteraan Petani Lampung

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Mengenal Keris sebagai Warisan Budaya Nusantara: Nilai Sejarah, Seni dan Filosofi yang Sarat Makna

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Hilirisasi Berbasis Rawa: Strategi Mesuji Lepas dari Kutukan Komoditas

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Brimob Polda Lampung Gelar Apel Pasukan Siaga Bencana Alam

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved