Lappung – Pertumbuhan ekonomi Lampung 2025 jadi momentum yang tidak boleh dilewatkan.
Provinsi Lampung mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen year-on-year (yoy) pada triwulan I tahun 2025.
Baca juga : Eksportir sebagai Pilar Ekonomi Lampung dan Peran Strategis Kepemimpinan Muda
Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang tercatat 4,87 persen serta pertumbuhan kawasan Sumatera sebesar 4,85 persen, berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia.
Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa Lampung tidak hanya mampu bertahan menghadapi tekanan global dan dinamika politik dalam negeri, tetapi juga berhasil menciptakan momentum pemulihan yang lebih kuat dibandingkan wilayah lain.
Namun demikian, pertumbuhan ini harus dibaca lebih dalam.
“Ini bukan sekadar soal angka, tapi tentang bagaimana pertumbuhan ini bisa dirasakan langsung oleh rakyat kecil dan menjadi pondasi pembangunan jangka panjang,” ujar Mahendra Utama, pemerhati pembangunan, Selasa, 8 Juli 2025.
Konsumsi, Investasi, dan Ekspor Jadi Motor Pertumbuhan
Laporan Bank Indonesia mengidentifikasi 3 sektor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung pada awal 2025:
- Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 5,06 persen, didorong oleh peningkatan daya beli pasca Lebaran dan Pemilu.
- Investasi mencatat pertumbuhan 1,26 persen, menandakan mulai pulihnya kepercayaan pelaku usaha seiring stabilitas politik pasca pemilu.
- Ekspor melonjak 52,20 persen, berkat kontribusi komoditas unggulan seperti kopi, lada, nanas, serta hasil agroindustri lainnya.
Namun Mahendra menilai, konsumsi yang tinggi bisa bersifat sementara jika tidak dibarengi peningkatan produktivitas.
Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi ekspor agar Lampung tidak terus menerus mengandalkan bahan mentah.
“Sudah saatnya Lampung bukan hanya jadi lumbung pangan nasional, tapi juga *dapur industri berbasis desa*,” tegasnya.
Gubernur Muda dan Arah Baru Pembangunan
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlaela, menurut Mahendra, telah menunjukkan langkah-langkah strategis dalam 100 hari pertama masa jabatan mereka.
Baca juga : Saatnya Sepak Bola Lampung Bangkit!
Alih-alih hanya menjalankan agenda simbolik, keduanya aktif membuka jalur diplomasi internasional dan memperkuat hilirisasi berbasis desa.
“Keduanya fokus menghubungkan desa dengan modal dan teknologi global. Ini keberanian baru yang patut diapresiasi,” ujar Mahendra.
Kebijakan desentralisasi ekonomi dan upaya mengurangi ketimpangan antar wilayah juga mulai menjadi prioritas, terutama dalam program-program yang menyasar pekon dan kecamatan terpencil.
Tantangan Ketimpangan dan Peringatan “Mabuk Angka”
Meski mencatat pertumbuhan yang impresif, Mahendra mengingatkan agar pemerintah tidak “mabuk angka”.
Ia menekankan pentingnya mengukur sejauh mana pertumbuhan itu benar-benar menyentuh masyarakat, terutama dalam menekan angka kemiskinan, pengangguran, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
“Pertumbuhan Lampung masih sektoral, belum merata antar wilayah. Ketimpangan antara kota besar seperti Bandarlampung dan daerah pesisir masih menganga,” ujarnya.
4 Agenda Aksi Prioritas
Untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak menjadi euforia sesaat, Mahendra menyarankan 4 agenda aksi konkret:
1. Dorong hilirisasi berbasis desa, dengan membangun sentra pengolahan pangan dan melibatkan BUMDes serta koperasi anak muda.
2. Perluas akses kredit bagi UMKM dan petani, agar lembaga keuangan turut mendukung pelaku ekonomi akar rumput, bukan hanya sektor korporat.
3. Percepat transformasi digital, agar petani dan pelaku usaha desa bisa mengakses pasar langsung tanpa bergantung pada tengkulak.
4. Fasilitasi investasi hijau dan inklusif, yang tidak hanya mengejar nilai ekonomi tetapi juga ramah lingkungan dan menyerap tenaga kerja lokal.
Lampung Menuju Kelas Baru Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Lampung di tahun 2025 menjadi titik balik penting.
Dengan kolaborasi pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil, provinsi ini berpeluang naik kelas dari sekadar penghasil komoditas ke pusat hilirisasi dan inovasi berbasis desa.
“Pertumbuhan ini harus menjadi alat menuju kesejahteraan dan keadilan ekonomi. Lampung bisa naik kelas, asal kita tidak tinggal diam,” tutup Mahendra.
Baca juga : Generasi Muda Memimpin Lampung: Harapan yang Sedang Menjadi Kenyataan





Lappung Media Network