Lappung – Provinsi Lampung dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pilar utama dalam mewujudkan target swasembada beras nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.
Dengan target produksi 3,5 juta ton gabah pada 2025, Lampung berada di jalur yang tepat untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan daerah, tetapi juga menyuplai cadangan pangan nasional secara signifikan.
Baca juga : Sejarah Krisis Beras: Dari Jepang hingga Thailand, dan Masa Depan Indonesia
Pemerhati pembangunan, Mahendra Utama, menyatakan bahwa optimisme ini sangat beralasan jika melihat data dan komitmen yang ditunjukkan oleh pemerintah daerah.
Menurutnya, status Lampung sebagai jantung pangan Sumatera bukanlah sekadar julukan, melainkan cerminan dari kapasitas produksi yang masif.
“Melihat target pemerintah pusat untuk swasembada dalam waktu dekat, peran Lampung menjadi sangat strategis.
“Potensinya luar biasa, dan angka-angka menunjukkan bahwa kita mampu,” ujar Mahendra, Minggu, 14 September 2025.
Mahendra merujuk pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, yang mencatat bahwa pada tahun 2024, luas panen padi mencapai 531,72 ribu hektare.
Dari luasan tersebut, produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 2,79 juta ton, yang setara dengan 1,60 juta ton beras untuk konsumsi.
“Angka 2024 saja sudah menunjukkan surplus. Jika proyeksi Pemprov Lampung untuk mencapai 3,5 juta ton GKG di 2025 terwujud, maka kontribusi Lampung akan semakin kokoh,” jelasnya.
Mahendra juga menyoroti 5 kabupaten yang menjadi tulang punggung produksi beras di Lampung.
Kelima lumbung padi tersebut adalah Lampung Tengah sebagai produsen utama, diikuti oleh Lampung Timur, Tulang Bawang, Lampung Selatan, dan Mesuji.
Menurutnya, keberhasilan di tingkat provinsi tidak lepas dari upaya para pemimpin daerah, terutama Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang dinilai serius dalam mengawal sektor pertanian.
Baca juga : Mentan Amran: Lampung Masuk Daftar Provinsi dengan Harga Beras Turun
“Kita lihat Gubernur sering turun langsung, ikut panen raya, dan yang terpenting, selalu menekankan agar harga gabah tidak jatuh di bawah ketentuan pemerintah.
“Ini adalah insentif nyata bagi petani untuk terus berproduksi,” kata Mahendra.
Dukungan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur pasca panen seperti silo modern, gudang, dan mesin pengering juga dianggap sebagai langkah krusial untuk menekan angka kehilangan hasil panen (losses).
Meski optimistis, Mahendra mengingatkan bahwa target swasembada bukanlah tanpa tantangan.
Ia menggarisbawahi 3 faktor kritis yang harus dijaga agar produksi melimpah tidak sia-sia.
“Produksi besar saja tidak cukup. Kuncinya ada di tiga hal: efisiensi pasca panen, stabilitas pasokan pupuk dan air irigasi, serta jaminan harga yang berpihak pada petani,” tegasnya.
Tanpa ketiga elemen tersebut, lanjutnya, petani akan tetap berada dalam posisi yang rentan, dan semangat untuk meningkatkan produksi bisa menurun.
“Lampung sudah di jalur yang benar. Kombinasi antara lahan yang subur, tradisi bertani yang kuat, dan kepemimpinan yang peduli adalah modal utama.
“Swasembada beras bukan lagi mimpi, tetapi sebuah target realistis yang perlu dikawal bersama,” pungkasnya.
Baca juga : Jangan Tertipu Label, 5 Merek Beras Premium Ini Tak Penuhi Standar





Lappung Media Network