Lappung – Gelombang demonstrasi besar yang mengguncang Prancis dan Inggris dalam sepekan terakhir menjadi sorotan tajam.
Eksponen 98, Mahendra Utama, menilai gejolak sosial di Eropa tersebut bukan sekadar kemarahan sesaat, melainkan krisis kepercayaan mendalam yang harus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia.
Baca juga : Indonesia di Era Prabowo: Menuju Motor Utama ASEAN
Menurutnya, ketimpangan ekonomi, kebijakan yang tidak aspiratif, dan polarisasi sosial yang memicu unjuk rasa di 2 negara tersebut bisa menjadi detonator serupa di Tanah Air jika tidak diantisipasi.
“Apa yang terjadi di Paris dan London adalah cermin. Ini alarm bagi semua negara, termasuk Indonesia.
“Stabilitas sejati bukan lahir dari represi, tetapi dari kepercayaan rakyat pada negaranya,” ujar Mahendra Utama dalam analisisnya, Minggu, 14 September 2025.
Di Prancis, aksi bertajuk “Bloquons Tout” (Blokir Semua) berhasil melumpuhkan kota-kota utama.
Kemarahan publik dipicu oleh kebijakan penghematan anggaran yang dinilai elitis, seperti pemotongan dana kesehatan, penghapusan hari libur, hingga pembekuan dana pensiun.
Aksi yang dimobilisasi secara masif melalui media sosial ini berhasil menarik 175 ribu orang di lebih dari 800 titik.
Tuntutan utama mereka adalah penghentian PHK, peningkatan investasi layanan publik, hingga desakan agar Presiden Emmanuel Macron mundur.
“Pemerintah Prancis mengerahkan 80 ribu aparat, tetapi itu hanya menambah bara.
“Pergantian perdana menteri pun tidak meredakan kemarahan. Ini menunjukkan jurang yang lebar antara elit politik dan rakyat,” jelas Mahendra.
Baca juga : Pasca Gejolak: Dampak Stabilitas Nasional pada IHSG dan Rupiah
Sementara itu, di London, Inggris, isu imigrasi menjadi pemantik utama.
Aksi “Unite the Kingdom” yang digerakkan aktivis sayap kanan, Tommy Robinson, menuntut pembatasan imigrasi secara drastis.
Aksi ini menarik sekitar 110 ribu massa, namun berujung bentrok dengan kelompok anti-rasis yang menggelar aksi tandingan.
Akibatnya, puluhan orang ditangkap dan puluhan polisi terluka.
Pelajaran untuk Indonesia
Mahendra Utama menggarisbawahi 4 pelajaran utama yang bisa dipetik Indonesia dari gejolak di Eropa.
Pertama, pentingnya transparansi dan partisipasi publik dalam setiap kebijakan ekonomi.
“Prancis adalah contoh buruk bagaimana kebijakan penghematan tanpa dialog bisa menjadi bumerang,” tegasnya.
Kedua, pemerintah harus responsif terhadap aspirasi masyarakat.
Menurutnya, kelambanan elit politik di Prancis dan Inggris hanya memperdalam krisis kepercayaan.
Indonesia, kata dia, perlu memperkuat mekanisme dialog sosial, bukan hanya mengandalkan pendekatan keamanan.
Ketiga, pengelolaan informasi di era digital.
Kecepatan media sosial dalam memobilisasi massa di Eropa menunjukkan betapa pentingnya literasi digital untuk melawan hoaks dan provokasi.
“Terakhir, masyarakat harus memilih jalan solidaritas, bukan kekerasan.
“Ruang empati sosial harus dikuatkan agar kanal protes tidak selalu berakhir dengan benturan fisik,” pungkasnya.
Mahendra menyimpulkan bahwa Indonesia harus segera belajar dari pengalaman negara lain dengan memperkuat keadilan sosial, menjaga transparansi, dan membangun dialog inklusif sebelum terlambat.
Baca juga : Membubarkan DPR/DPRD: Gagasan Emosional, Bukan Solusi Demokrasi





Lappung Media Network