Lappung – Provinsi Lampung tidak hanya identik dengan kopi robusta dan lada hitam.
Pada tahun 2025, Lampung semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penghasil buah tropis unggulan, dengan tren konsumsi lokal yang terus menguat.
Baca juga : 6 Kabupaten Raja Lada Hitam Lampung
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa ada 3 jenis buah yang kini merajai pasar dan menjadi favorit utama warga Lampung, yakni pisang, nanas, dan jeruk siam.
“Kalau bicara Lampung, orang langsung teringat kopi atau lada. Padahal, sektor buah-buahannya sangat kuat.
“Di 2025 ini, kita melihat masyarakat Lampung sendiri menjadi konsumen setia hasil kebun mereka,” ujar Mahendra Utama, Sabtu, 18 Oktober 2025.
Menurut Mahendra, ketiga buah tersebut mendominasi pasar bukan tanpa alasan.
Pisang, jelasnya, tersedia sepanjang tahun, harganya terjangkau, bergizi, dan mudah diolah menjadi berbagai penganan, dari keripik hingga kudapan sarapan.
Sementara itu, nanas menjadi kebanggaan daerah, khususnya dari sentra produksi di Lampung Tengah dan Pringsewu.
“Nanas Lampung punya kualitas ekspor, dagingnya tebal dan manis.
“Untuk jeruk siam lokal, meski bersaing dengan jeruk dari luar seperti Pontianak, ia tetap jadi andalan di pasar-pasar tradisional kita,” paparnya.
Fenomena paling menarik yang disorot Mahendra adalah pergeseran kesadaran konsumen.
Ia mengamati masyarakat Lampung kini jauh lebih percaya pada buah yang tumbuh di sekitar mereka daripada buah impor yang dikemas mewah.
“Ini bukan soal gengsi. Ini soal rasa dan kepercayaan.
“Ada kesadaran baru di 2025 bahwa kemandirian pangan itu dimulai dari hal sederhana: mencintai dan membeli hasil bumi sendiri,” tegas Mahendra.
Baca juga : Tembakau Bukan Hanya untuk Rokok, Tapi Juga Obat
Ia menambahkan, tren ini juga terlihat dari antusiasme warga saat musim buah lain tiba.
Durian, misalnya, selalu dinanti tidak hanya untuk dikonsumsi langsung, tetapi juga diolah menjadi tempoyak, kuliner fermentasi khas yang populer.
“Pepaya, manggis, salak, rambutan, hingga markisa, semuanya punya tempat di meja makan warga.
“Pasar tradisional penuh dengan buah segar lokal yang harganya terjangkau,” tambahnya.
Mahendra menilai, tren positif ini merupakan fondasi penting bagi masa depan pertanian Lampung yang lebih berkelanjutan.
Namun, ia mengingatkan bahwa potensi besar ini harus segera ditopang oleh dukungan sistem yang komprehensif.
“Potensi Lampung di sektor buah-buahan sangat besar.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan sistem, mulai dari perluasan akses pasar, penerapan teknologi pascapanen, hingga penguatan branding produk lokal,” jelasnya.
Ia optimis, jika dukungan tersebut berjalan baik, buah-buahan asal Lampung tidak hanya akan memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mampu bersaing lebih kuat di pasar nasional bahkan internasional.
Baca juga : Rambutan Lampung, Peluang Manis yang Masih Tertidur





Lappung Media Network