Lappung – Sektor peternakan dan perikanan tangkap memberikan kontribusi positif terhadap daya beli petani di Provinsi Lampung menjelang pergantian tahun.
Kenaikan harga komoditas strategis seperti ayam ras dan ikan kembung menjadi salah satu pemicu naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung pada Desember 2025.
Baca juga : Lumbung Pangan Lampung: Strategi Rahmat Mirzani Djausal Tekan Angka Kemiskinan Petani
BPS Provinsi Lampung mencatat, NTP gabungan provinsi ini bertengger di angka 130,15, atau naik sebesar 0,64 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan itu menjadi sinyal positif bahwa indeks harga yang diterima petani (pendapatan) tumbuh lebih cepat ketimbang indeks harga yang harus mereka bayarkan (pengeluaran).
Kenaikan NTP di subsektor Peternakan (NTP-T) dan Perikanan Tangkap (NTN) kali ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar klasik, permintaan tinggi di tengah pasokan yang terbatas.
Pada subsektor peternakan, indeks harga yang diterima petani naik 0,55 persen. Komoditas ayam ras pedaging menjadi primadona.
“Harga komoditas ini (ayam ras) mengalami peningkatan karena pasokan yang sedikit dan naiknya permintaan,” ungkap laporan resmi BPS Lampung, Senin, 5 Januari 2026.
Tren serupa terjadi di laut. Nelayan perikanan tangkap menikmati kenaikan NTP sebesar 0,57 persen.
Ikan kembung, yang menjadi lauk populer masyarakat, mengalami kenaikan harga di tingkat nelayan.
Hal ini tidak terlepas dari faktor musim, berlalunya musim panen membuat ketersediaan pasokan ikan kembung menurun, sehingga harga terkerek naik secara alami.
Meski ayam dan ikan memberikan andil, lonjakan tertinggi secara persentase sebenarnya terjadi di subsektor Hortikultura. NTP Hortikultura melesat tajam hingga 5,64 persen.
Komoditas pemicunya adalah kelompok cabai baik cabai merah, rawit, maupun hijau yang harganya melambung akibat pasokan yang menipis di tengah permintaan akhir tahun yang meningkat.
Baca juga : Nasib Petani Singkong Lampung dan Perjuangan Gubernur Mirza Melawan Tirani Impor
Sementara itu, subsektor Tanaman Pangan juga mencatat kinerja positif dengan kenaikan NTP 1,62 persen berkat naiknya harga gabah pasca berlalunya musim panen raya.
Kendati pendapatan petani naik, mereka juga menghadapi tantangan inflasi perdesaan.
Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Lampung pada Desember 2025 tercatat naik 1,35 persen.
Kenaikan pengeluaran ini dominan disebabkan oleh naiknya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,06 persen.
Artinya, meski petani menikmati harga jual produk yang lebih tinggi, mereka juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan konsumsi harian dapur mereka sendiri.
Di sisi lain, tidak semua petani tersenyum lebar. Petani perkebunan rakyat dan pembudidaya ikan justru mengalami penurunan nilai tukar.
NTP Perkebunan Rakyat terkoreksi 0,50 persen akibat turunnya harga kelapa, sementara pembudidaya ikan tertekan penurunan harga udang payau akibat banjirnya pasokan di pasar.
Secara keseluruhan, kinerja sektor pertanian Lampung di penghujung 2025 tetap impresif.
Hal ini tecermin dari Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) indikator yang mengukur profitabilitas produksi tanpa menghitung konsumsi rumah tangga yang naik lebih tinggi, yakni sebesar 1,87 persen.
Baca juga : HET Pupuk Turun, Petani Lampung Utara Lega





Lappung Media Network