Lappung
Lappung Media Network Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    Lappung
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    Irjen by Irjen
    11/03/2026
    in Gaya Hidup
    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    Ilustrasi - Bandar Lampung 2036: TV Selamat, Kajian Ilmiah Tenggelam. Foto: Arsip DBS/Lappung/I

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Puisi ini merupakan sebuah kritik sosial dan ekologis yang sangat tajam terhadap karut-marutnya tata ruang kota dan penanganan bencana banjir di Bandar Lampung.

    Secara garis besar, penulis menyoroti ironi pembangunan kota yang membabi buta, di mana pemerintah daerah dinilai lebih mementingkan kepentingan investor, pendirian bangunan komersial (ruko), dan betonisasi secara masif tanpa mempedulikan analisis dampak lingkungan dan sistem drainase.

    Kajian akademis yang krusial, seperti dari kampus ITERA mengenai tata kelola sungai, digambarkan hanya menjadi “macan kertas” yang tertidur di lemari birokrasi sementara Izin Mendirikan Bangunan (IMB) terus diterbitkan secara sembarangan.

    Akibatnya, masyarakatlah yang harus menanggung buah pahitnya atau “memanen” banjir bandang tersebut.

    Lebih lanjut, puisi ini juga menyindir keras sikap pejabat dan birokrasi yang terkesan lepas tangan serta gemar saling lempar tanggung jawab.

    Alih-alih mencari solusi nyata dan berkelanjutan seperti menerapkan konsep “Kota Spons” (Sponge City) layaknya di Singapura atau Curitiba, para pemangku kebijakan justru sering berlindung di balik alasan “fenomena alam”, menyalahkan air kiriman dari kabupaten tetangga, atau sekadar mengadakan rapat formalitas tanggap bencana yang tidak membuahkan aksi di lapangan.

    Penulis juga menyinggung berbagai titik kritis di Bandar Lampung secara spesifik, seperti Jalan ZA Pagar Alam, perumahan di Sukarame, hingga ancaman tenggelamnya pesisir Pantai Panjang akibat rob.

    Pada akhirnya, melalui proyeksi tahun 2036, Mahendra Utama memberikan gambaran distopia yang tragis sekaligus satiris.

    Ia membayangkan sebuah masa depan di mana banjir sudah menjadi kelaziman sehari-hari yang tak terhindarkan jika teguran dari banjir Maret 2026 ini diabaikan.

    Di masa depan bayangan tersebut, ojek perahu menjadi moda transportasi utama, dan sistem peringatan dini bukan lagi berasal dari teknologi pemerintah, melainkan dari jeritan warga yang panik menyelamatkan harta benda.

    Puisi ini berfungsi sebagai peringatan keras (warning) agar pembangunan kota tidak hanya mengandalkan ambisi beton, tetapi juga berpijak pada akal sehat, kajian akademis, dan harmoni dengan alam.

     

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu

    Karya: Mahendra Utama

     

    Di ZA Pagar Alam, aspal bermetamorfosis jadi muara spektakuler,

    Motor-motor mati tenggelam jadi instalasi seni kontemporer

    “Ini bukan salah kami, ini fenomena alam,” ucap jubir dengan dasi segar,

    Sambil menghitung ulang seribu dua ratus rumah di Sukarame yang layak disebut kolam renang rakyat.

     

    Kajian ITERA setebal Alkitab, tertidur pulas di lemari birokrasi,

    Berkata manis tentang morfometri sungai yang minta ruang gerak kembali.

    Tapi IMB tetap terbit, para investor tersenyum puas hati,

    Karena siapa peduli drainase, yang penting proyek selesai di atas kertas, beton bisa “diakali”.

     

    Wali Kota sibuk main tuduh: “Air kiriman dari kabupaten tetangga!”

    Padahal banjir tahunan ini rutin seperti THR, tapi tak pernah ada yang bagi-bagi uangnya.

    Oh lihat Pantai Panjang, pelan-pelan ditelan rob, surut pun ogah

    Dua puluh lima hektar hilang, tapi kita masih sibuk bikin forum, diskusi, dan sarasehan “tanggap bencana” dengan snack box.

     

    Curitiba dan Singapura membangun kota spons, menyimpan air dalam pelukan,

    Kita sibuk menyemen tiap jengkal tanah, lalu protes pada Tuhan:

    “Kenapa hujan kali ini keterlaluan, tak seperti dulu yang pengertian?”

    Sementara “Sponge City” diterjemahkan sebagai “kota yang tiap tahun minta ampun sama banjir” itu pun versi rakyat kebanyakan.

     

    Selamat datang 2036: hari tanpa banjir adalah hari libur nasional,

    Ojek perahu dapat subsidi BBM, jadi transportasi paling profesional.

    Alarm peringatan dini sudah lama jadi besi tua, rusak total,

    Kini sirine diganti suara ibu-ibu teriak: “Cepat angkat TV ke atas, air sudah masuk ke ruang tamu, viral!”

     

    Semua ini demi visi besar: silau pada beton, buta pada akal,

    Membangun kota di atas air, tanpa pernah belajar dari sungai yang berteriak dalam kajian akademikal.

    Maka mari kita tepuk tangan untuk para perencana ulung,

    Yang berhasil menanam ruko dan memanen air bah buah karya paling “agung”.

     

    Puisi ini saya sampaikan sebagai bentuk keprihatinan pasca banjir Bandar Lampung Maret 2026, bagaimana kondisi 10 tahun mendatang bila masih saling lempar tanggung jawab

     

    Penulis Mahendra Utama adalah Eksponen 98 dan Pemerhati Pembangunan asal Lampung

    Tags: #BanjirBandarLampung#BencanaAlam#MahendraUtama#PuisiMahendraUtamaBandarlampung
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    BPN Kota Palangka Raya Mulai Pemutakhiran Zona Nilai Tanah

    Next Post

    Jaga Daya Beli di Bulan Suci, KORPRI Lampung Hadirkan Pasar Murah dan Rangkul 62 UMKM

    Related Posts

    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung
    Gaya Hidup

    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung

    22/02/2026
    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai
    Gaya Hidup

    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai

    20/02/2026
    Sai Bumi Ruwai Jurai Bangkit, Karya Mahendra Utama 
    Gaya Hidup

    Sai Bumi Ruwai Jurai Bangkit, Karya Mahendra Utama 

    06/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Mengenal PT Lampung Energi Berjaya: Profil, Misi, dan Pemimpin Visioner

      Mengenal PT Lampung Energi Berjaya: Profil, Misi, dan Pemimpin Visioner

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Menurut Ahli: Apa Saja Perbedaan Kabupaten dan Kotamadya (Kota)?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Danantara Indonesia Gelar Pelatihan Semikonduktor: Bangun Masa Depanmu di Industri Chip Tingkat Dunia

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Subholding Downstream Pertamina Resmi Berdiri: Hasil Merger 3 Bisnis Sektor Hilir

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Dua Dirjen PKP Pamitan, Tak Sejalan dengan Maruarar Sirait?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara): Mimpi Besar Prabowo untuk Indonesia Maju

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved