Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Sore di Flip Flop Coffee Antasari: Ruang Publik Urban yang Ramai dan Nyaman.
Sore di Flip Flop Coffee Antasari: Ruang Publik Urban yang Ramai dan Nyaman
Oleh: Mahendra Utama*
Sore yang Ramai di Jantung Antasari
Rabu, 17 Juni 2026, pukul 17.14 WIB. Saya bersama lima rekan memasuki kawasan Jalan Pulau Sebuku, Tanjung Baru, Kecamatan Kedamaian yang akrab disebut kawasan Antasari. Sore itu, kawasan ini sedang padat merayap.
Data Dinas Perhubungan Bandarlampung menyebutkan, kemacetan terparah di Jalan Antasari memang terjadi pada jam pulang kerja.
Aktivitas warga yang kembali ke permukiman dari pusat kota menciptakan hiruk-pikuk khas urban.
Di tengah kepadatan itu, Flip Flop Coffee berdiri sebagai oase: sebuah kafe dengan konsep taman yang nyaman untuk ngobrol santai.
Nyaman di Antara Hiruk-Pikuk
Memasuki kafe, suasana langsung berubah. Suasana ramai di luar seolah tertahan oleh dinding-dinding bergaya Bohemian yang penuh warna dan estetik.
Kami memilih tempat di area taman. Menu sederhana pun dipesan: nasi goreng dan mie goreng, ditemani kopi hitam dan segelas teh hangat.
Dalam teori ruang publik perkotaan, kafe berperan sebagai third place, ruang sosial informal di luar rumah dan kantor yang menjadi titik temu antara produktivitas dan relaksasi.
Magrib di Musholla Kecil, Pulang dengan Cerita
Saat azan magrib berkumandang, kami berpindah ke musholla kecil dalam kompleks Hotel Omah Akas Syariah yang bersebelahan dengan kafe.
Kenyamanan beribadah di tengah suasana kota yang sibuk menjadi nilai tambah tersendiri. Usai salat, kami kembali ke meja. “Kafe ini memiliki interior unik dan instagramable,” demikian tulis Jurnal Aceh.
Kami hanya membicarakan hal-hal ringan cukup untuk melepas penat. Jam menunjukkan 19.17 WIB. Kami pun pulang, meninggalkan Antasari yang masih ramai dengan lampu-lampu kota yang mulai menyala.
Flip Flop, Bukti Kafe sebagai Ruang Publik Modern
Pengalaman sore itu menegaskan apa yang dikaji para peneliti: kedai kopi adalah ruang publik modern. Di tengah kemacetan dan kepadatan Jalan Antasari yang nyaris terjadi di sepanjang jalannya, Flip Flop Coffee hadir sebagai tempat untuk “bernapas”.
Dengan harga minuman mulai Rp20.000 dan buka hingga malam, kafe ini menjadi ruang inklusif bagi siapa saja yang mencari secangkir kopi dan ketenangan. (*)
——————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.




Lappung Media Network