Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Modernisasi Pertanian: Jembatan Pemerataan Ekonomi dan Kesejahteraan Petani Lampung.
Modernisasi Pertanian: Jembatan Pemerataan Ekonomi dan Kesejahteraan Petani Lampung
Oleh: Mahendra Utama*
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang mencapai 5,58% di paruh pertama 2026 mengonfirmasi efektivitas masuknya modal asing dan domestik. Namun, tantangan nyata pembangunan daerah adalah distribusi kesejahteraan.
Mengingat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi basis hidup mayoritas penduduk dan tumbuh kuat di angka 5,65%, arus investasi yang masuk sejak 2025 harus diarahkan untuk memodernisasi sektor hilir pertanian di tingkat tapak.
Dalam ilmu ekonomi pembangunan, fenomena ini erat kaitannya dengan teori Dualistik Perekonomian dari Arthur Lewis.
Teori ini menyatakan bahwa pertumbuhan di sektor modern (industri/investasi) harus mampu menyerap kelebihan tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas di sektor tradisional (pertanian).
Di Lampung, jembatan ekosistem ini mulai terbangun melalui introduksi teknologi pasca-panen, seperti standarisasi mesin pengering (bed dryer) korporasi petani, yang terbukti menekan angka kehilangan hasil (losses) sekaligus menjaga stabilitas harga gabah dan jagung.
Modernisasi hilir ini berdampak langsung pada perbaikan Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung tahun 2026 yang bergerak positif. Ketika efisiensi pasca-panen meningkat, posisi tawar petani di hadapan pasar menguat.
Dengan target investasi Pemprov Lampung yang dinaikkan menjadi Rp16,2 triliun pada 2026, fokus kebijakan harus tetap konsisten pada asimilasi teknologi pertanian guna mencegah ketimpangan antarwilayah.
Sebagaimana ditekankan dalam Laporan Perekonomian Provinsi target 2026-2029:
“Ketahanan ekonomi daerah yang tangguh berakar pada sektor pertanian yang termodernisasi dan terintegrasi dengan industri pengolahan.”
Melalui sinergi investasi padat modal di hilir dan pemberdayaan petani di hulu, Lampung tidak hanya sekadar mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan menyejahterakan rakyat. (*)
——————————————————————–
* Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.





Lappung Media Network