Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Menyikapi Krakatau: Antara Mitigasi Bencana dan Kebanggaan Lokal.
Menyikapi Krakatau: Antara Mitigasi Bencana dan Kebanggaan Lokal
Oleh: Mahendra Utama*
Rembuk Komunitas di Bandar Lampung mengajak warga mengenal Krakatau dari udara, sebuah pendekatan baru yang menyeimbangkan kewaspadaan akan risiko dan rasa cinta terhadap ikon dunia.
Krakatau dalam Bingkai Foto Udara
Sekitar 50 warga Lampung dari berbagai kalangan mahasiswa, fotografer, komunitas kreatif hadir dalam Rembuk Komunitas “Bisik Cerita Krakatau Lewat Foto Udara” di Pasar Modern Lebak Budi, Bandar Lampung, Minggu (23/8/2026) malam.
Acara yang digagas oleh @lampuung, @lampungreels, @kelilinglampung_, dan @impro.mgt ini menandai dibukanya Pameran Foto Udara yang berlangsung hingga 27 Agustus 2026.
Inisiatif murni warga ini lahir dari kepedulian terhadap Krakatau baik sebagai kebanggaan Lampung maupun sebagai gunung api aktif yang perlu diwaspadai.
Ketika Risiko dan Keindahan Berdampingan
Kawasan Gugus Pulau Anak Krakatau berstatus Cagar Alam yang dilindungi undang-undang dan tertutup untuk wisata umum, kecuali penelitian dan konservasi.
Status ini membuat dokumentasi visual menjadi jendela bagi publik untuk mengenal Krakatau tanpa memasuki kawasan terlarang.
Capt. Ken, pilot pesawat komersial, membagikan pengalamannya mengabadikan lanskap eksotis Krakatau dari kokpit.
“Saya pertama kali ke Krakatau tahun 2010. Sejak itu saya jatuh cinta dengan Krakatau yang sangat eksotis,” ujarnya. Ia memotret saat autopilot menyala, biasanya pada rute Jakarta-Lampung di sekitar Gunung Rajabasa, serta rute Jakarta-Padang yang melintas lebih dekat dengan Anak Krakatau.
Mitigasi yang Tak Menghilangkan Rasa Bangga
Founder @kelilinglampung_, Yopie Pangkey, menilai narasi kebencanaan selama ini terlalu fokus pada ancaman dan kengerian. Padahal, edukasi mitigasi dan kebanggaan terhadap Krakatau sebagai identitas daerah bisa berjalan berdampingan.
Pandangan ini selaras dengan teori “risk perception” yang dikemukakan Paul Slovic. Masyarakat tidak sekadar merespons risiko secara objektif, tetapi juga melalui filter sosial dan budaya.
Jika komunikasi risiko hanya menekankan aspek menakutkan tanpa membangun ikatan emosional, publik justru bisa kehilangan kepedulian.
Fotografer senior Budhi Marta Utama menegaskan, “Krakatau itu masuk wilayah Lampung, harusnya kita berpikir bagaimana Krakatau bisa memberi manfaat kepada masyarakat Lampung”. Ia juga mengingatkan bahwa salah satu hal paling diingat dunia tentang Indonesia adalah letusan dahsyat Krakatau 27 Agustus 1883 karena itu, Krakatau sangat pantas menjadi warisan dunia.
Menjaga Keseimbangan Narasi
Ajang ini membuktikan bahwa mengenalkan potensi bahaya dan mengagumi keindahan sejarah Krakatau bisa berjalan berdampingan.
Bukan sekadar seremoni, tetapi upaya merawat cinta terhadap ikon alam sekaligus menumbuhkan kesadaran mitigasi.
Seperti pesan Capt. Ken: “Dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi dan umur kita terlalu singkat. Oleh karena itu, jelajahilah dunia”. (*)
—————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.




Lappung Media Network