Lappung – Perhelatan APEKSI Outlook 2025 yang menghadirkan puluhan wali kota dari seluruh Indonesia di Bandarlampung dinilai menjadi momentum krusial bagi perekonomian daerah.
Namun, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengingatkan agar acara ini tidak berhenti sebatas seremoni yang riuh di permukaan tanpa dampak jangka panjang.
Baca juga : Kenapa PDRB Bandarlampung Masih Kalah Jauh dari Palembang?
Mahendra menyoroti fenomena keramaian yang terjadi di Bandarlampung selama acara berlangsung.
Tingkat okupansi hotel melonjak, pelaku UMKM dan kuliner kebanjiran pesanan, hingga sektor transportasi yang bergeliat.
“Secara teori ekonomi wilayah, ini adalah multiplier effect. Ada dampak berganda dari satu aktivitas yang menyebar ke sektor lain.
“Uang memang berputar deras saat acara, tapi pertanyaan kritisnya, sampai kapan? Jangan sampai begitu acara usai, ekonomi kembali sepi,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Sabtu, 20 Desember 2025.
Menurut Mahendra, tanpa strategi lanjutan yang terukur, momen besar seperti APEKSI hanya akan menjadi catatan keuangan daerah sesaat tanpa meninggalkan jejak pembangunan yang konkret bagi rakyat.
Pariwisata dan Konektivitas
Agar momentum ini tidak sia-sia, Mahendra menyarankan pemerintah daerah untuk tidak membiarkan para delegasi hanya menghabiskan waktu di rute hotel ke lokasi acara.
Ia menekankan pentingnya konektivitas wisata.
“Lampung bukan cuma Bandarlampung. Pemprov dan Pemkot harus cerdik menghubungkan tamu dengan destinasi unggulan seperti Pahawang, Teluk Kiluan, atau Krakatau.
“Buat paket tur singkat. Ini namanya hilirisasi pariwisata berbasis konektivitas,” tegasnya.
UMKM Harus Naik Kelas
Selain pariwisata, Mahendra juga menyoroti sektor UMKM.
Ia menilai produk lokal seperti kerupuk, kopi robusta, hingga sambal terasi memiliki potensi menjadi oleh-oleh nasional, asalkan didukung kemasan dan izin edar yang layak.
Baca juga : Terbaik se-Lampung, Kejari Bandarlampung Juara Penanganan Korupsi dan Akuntabilitas
Mahendra menyarankan agar forum ini dimanfaatkan untuk networking bisnis, bukan sekadar pameran.
“Libatkan marketplace dan e-commerce. Pastikan produk lokal kita bisa menembus pasar yang lebih luas setelah para wali kota ini pulang,” imbuhnya.
Belajar Tata Kota
Lebih lanjut, Mahendra menilai APEKSI Outlook 2025 adalah kesempatan emas bagi Pemerintah Kota Bandarlampung untuk melakukan benchmarking atau studi tiru secara langsung dari kota-kota lain yang lebih maju dalam hal tata kota.
“Masalah kemacetan dan pengelolaan sampah mulai serius di Bandarlampung. Jangan sia-siakan forum ini hanya untuk basa-basi.
“Ini saatnya belajar solusi konkret dari kota lain soal transportasi publik dan manajemen kota,” kata Mahendra.
Menutup pandangannya, Mahendra menegaskan bahwa posisi Lampung sebagai gerbang Sumatera memiliki keunggulan logistik dan wisata bahari yang strategis.
Namun, semua itu akan tetap menjadi wacana jika tidak ada tindak lanjut pasca-acara.
“Bola sekarang ada di tangan pemangku kepentingan.
“Akankah APEKSI Outlook 2025 jadi titik balik pembangunan Lampung, atau sekadar laporan pertanggungjawaban tanpa dampak? Rakyat Lampung berhak menagih janji itu,” pungkasnya.
Baca juga : PDRB Bandarlampung Versus PDRB Palembang: Siapa Unggul?
