Lappung – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung tengah mematangkan skema pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung dalam skala besar.
Tidak tanggung-tanggung, sejumlah bendungan raksasa mulai dari Batutegi hingga Margatiga diproyeksikan menjadi lumbung energi baru demi mendongkrak kemandirian energi daerah.
Baca juga : Solusi Cerdas Sampah, DLH Lampung Selatan Hadirkan Energi BBJP Ramah Lingkungan
Langkah strategis itu diambil untuk menjawab tantangan kebutuhan energi sekaligus mendukung program Astacita pemerintah pusat terkait kemandirian energi nasional.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan, menegaskan bahwa transisi ke energi hijau bukan lagi sekadar wacana, melainkan target prioritas daerah.
“Pertama yang menjadi rencana atau target pemerintah daerah adalah mendorong kemandirian energi sesuai Astacita.
“Daerah diminta memenuhi itu dengan pengembangan potensi energi terbarukan,” ungkap Mulyadi, dilansir pada Senin, 5 Januari 2026.
Urgensi pengembangan PLTS terapung ini didasari oleh peta kebutuhan listrik Lampung yang terus melonjak.
Saat ini, beban kebutuhan listrik di wilayah tersebut mencapai 1.300 megawatt (MW).
Dari angka tersebut, pasokan pembangkit lokal baru mampu memenuhi sekitar 1.000 MW. Sisanya, sekitar 300 MW, Lampung masih harus mengimpor pasokan dari pembangkit di Sumatera Selatan.
“Ke depan, dengan adanya pertumbuhan kebutuhan energi, kita harus mencari sumber-sumber baru yang ramah lingkungan. Salah satunya melalui pemanfaatan tenaga surya,” jelas Mulyadi.
Secara teknis, pengembangan ini akan memaksimalkan aset bendungan yang sudah ada.
Baca juga : PLN Nusantara Power Perkuat Transisi Energi Lewat Pabrik Biomassa Baru di Lampung
Mulyadi memaparkan bahwa pemetaan kebutuhan telah rampung dilakukan.
Rencananya, sekitar 20 persen dari total luasan permukaan air bendungan akan dimanfaatkan untuk instalasi panel surya.
Selain menghasilkan listrik, teknologi PLTS terapung ini dinilai efisien karena tidak memakan lahan darat dan mampu mengurangi laju penguapan air di waduk.
“Nanti akan ada pengembangan panel surya atau PLTS terapung yang memanfaatkan keberadaan bendungan di sini, seperti Bendungan Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga,” tambahnya.
Lampung sendiri sebenarnya mencatatkan rapor hijau dalam bauran energi terbarukan (EBT).
Saat pemerintah pusat mematok target bauran EBT sebesar 23 persen, Lampung justru telah melesat di angka 30 persen.
Meski demikian, Pemprov Lampung menargetkan peningkatan kapasitas produksi listrik secara masif, dari 1.300 MW menjadi 2.000 MW.
Target ini akan dicapai dengan mengombinasikan berbagai potensi alam, mulai dari geotermal, angin, mikrohidro, hingga surya.
Saat ini, proses kolaborasi tengah dibangun melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), PLN, serta para investor untuk menyelaraskan proyek ini dengan Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL).
Berdasarkan data pemetaan, potensi energi surya di bendungan-bendungan Lampung terbilang fantastis.
Berikut rincian potensi kapasitas yang bisa dihasilkan:
- Bendungan Margatiga: Dengan luas 2.314 hektare, memiliki potensi kapasitas terbesar mencapai 462,79 MW.
- Bendungan Batutegi: Luas 2.100 hektare dengan potensi kapasitas 420 MW.
- Bendungan Way Sekampung: Luas 825 hektare dengan potensi kapasitas 165 MW.
- Bendungan Way Rarem: Luas 419 hektare dengan potensi kapasitas 83,7 MW.
- Bendungan Way Jepara: Luas 310 hektare dengan potensi kapasitas 62 MW.
Potensi besar ini didukung oleh tingkat iradiasi matahari di wilayah Lampung (seperti Lampung Barat, Waykanan, hingga Pesawaran) yang mencapai 135 watt per meter persegi, menjadikannya lokasi ideal untuk panen energi matahari.
Baca juga : Proyek Energi Hijau Lampung Siap Serap 1000 Tenaga Kerja





Lappung Media Network