Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Dari Nasi Kotak sampai Kopi Kafe, Lampung Butuh Ekosistem Kemasan yang Kuat.
Dari Nasi Kotak sampai Kopi Kafe, Lampung Butuh Ekosistem Kemasan yang Kuat
Oleh: Mahendra Utama*
Kemasan Bukan Sekadar Pembungkus, Tapi Nilai Tambah
Bayangkan kopi robusta Lampung yang dikenal memiliki aroma kuat dan karakter rasa khas, setelah dipanggang dan digiling, harus dikemas dalam plastik polos tanpa merek.
Atau singkong yang sudah diolah menjadi tapioka, dikirim dalam karung sederhana tanpa informasi produk. Di mana nilai tambahnya?
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyatakan bahwa Lampung memiliki potensi komoditas senilai lebih dari Rp100 triliun. Namun ia juga mengakui bahwa masih banyak komoditas yang diperjualbelikan keluar Lampung dalam bentuk bahan mentah.
Padahal, “Kopi kita hampir 90 persen masih diekspor dalam bentuk green bean, padahal harga kopi olahan bisa dua kali lipat lebih tinggi”.
Kemasan: Dari Nasi Bungkus sampai Ekspor Global
Industri kemasan di Lampung tidak hanya dibutuhkan untuk ekspor besar. Kebutuhan harian pun luar biasa: kertas untuk nasi bungkus dan nasi kotak, plastik untuk pembungkusan kopi di kafe, kemasan kertas untuk produk olahan kakao, hingga karung untuk tepung tapioka.
Data menunjukkan Indonesia industrial packaging market diperkirakan tumbuh dari 0,99 miliar dolar AS pada 2026 menjadi 1,36 miliar dolar AS pada 2031. Lampung harus merebut peluang ini.
Kehadiran PT Visi Prima Artha di Bandar Lampung yang memproduksi karung plastik anyaman dan jumbo bag, serta PT Konverta Mitra Abadi di Natar yang memproduksi karton bergelombang, adalah fondasi yang baik. Namun itu belum cukup.
Bahkan lonjakan harga plastik baru-baru ini mendorong pelaku usaha kecil di Bandar Lampung beralih ke kemasan berbasis kertas dan material biodegradable ini peluang bagi industri kertas lokal untuk tumbuh.
Saran Strategis untuk Gubernur Mirza
Hilirisasi yang digencarkan Gubernur Mirza mulai dari pembangunan fasilitas pupuk hayati di 2.500 desa hingga pembangunan dryer di 500 desa harus dibarengi dengan penguatan industri kemasan. Saya merekomendasikan:
1. Membangun packaging industrial cluster di kawasan industri yang diusulkan ke Bappenas.
2. Mendorong investasi pabrik kertas kemasan mengingat permintaan kemasan ramah lingkungan terus meningkat.
3. Memfasilitasi kemitraan antara agroindustri besar dengan industri kemasan lokal agar rantai pasok tetap di Lampung.
Seperti ditegaskan Gubernur Mirza, “Dengan PDRB mencapai Rp483,8 triliun pada 2024, kami membuka peluang besar bagi investor untuk berpartisipasi dalam program hilirisasi”. Industri kemasan adalah salah satu pintu masuk investasi itu.
Kemasan yang baik bukan biaya, itu investasi. Investasi untuk membuat produk Lampung dikenal dunia, dengan nilai tambah yang dinikmati masyarakat Lampung sendiri. (*)
—————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
