Lappung – Di tengah gegap gempita ekspor nikel dan sawit, 2 komoditas pertanian, edamame dan okra, ternyata diam-diam sukses besar menembus pasar global.
Produk yang jarang menjadi primadona di pasar lokal ini justru menjadi langganan tetap supermarket di Jepang, Amerika Serikat, hingga Eropa.
Baca juga : Edamame dan Okra: Primadona Jepang
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai keberhasilan itu membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar di komoditas minor, asalkan dikelola dengan model agribisnis yang tepat.
“Kita seringkali terlalu fokus pada komoditas raksasa dan mengabaikan potensi seperti edamame dan okra.
“Padahal, 2 sayuran ini sedang meraup untung besar dari pasar ekspor,” ujar Mahendra Utama, Selasa, 18 November 2025.
Mahendra menjelaskan, kunci sukses ekspor edamame, atau kacang kedelai Jepang, terletak pada model kemitraan yang terintegrasi.
“Lihat saja di Jember. Petani lokal di sana bekerja sama langsung dengan pabrik pengolahan melalui sistem kontrak,” jelasnya.
Menurutnya, model ini memberikan kepastian yang dibutuhkan petani.
Harga sudah pasti sebelum tanam, pasar sudah jelas, sehingga petani bisa fokus memproduksi dengan standar kualitas ekspor yang tinggi.
“Hasilnya? Produk kita bisa bersaing langsung dengan kompetitor dari Thailand atau China,” tegas Mahendra.
Hal serupa, lanjutnya, terjadi pada okra. Sayuran yang sering dianggap sayur orang tua ini justru melonjak permintaannya di luar negeri seiring tren healthy food global yang terus menguat.
Kunci sukses okra, kata Mahendra, terletak pada penerapan teknologi pascapanen.
“Permintaan okra segar sangat tinggi. Ini dijawab dengan teknologi pembekuan cepat atau quick freezing.
“Okra bisa tetap segar berbulan-bulan, memungkinkan pengiriman ke mana saja tanpa risiko busuk,” paparnya.
Baca juga : Ekspor Edamame Indonesia di Tengah Gejolak Global, Peluang dan Strategi
Bagi Mahendra, cerita sukses ini sejatinya bukan hanya soal sayurnya, tetapi soal model bisnisnya.
Kehadiran industri pengolahan di sentra produksi dinilai menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan.
“Ini yang namanya win-win solution. Petani dapat kepastian pasar dan harga, pabrik dapat pasokan bahan baku, tenaga kerja lokal terserap, dan produk Indonesia mendapat tempat di rak supermarket luar negeri,” katanya.
Meski demikian, Mahendra mengingatkan agar pemerintah dan pelaku usaha tidak cepat berpuas diri.
Menurutnya, potensi ini masih sangat mentah dan perlu dikembangkan serius.
“Pemerintah harus mendorong riset varietas unggul dan teknologi budidaya yang lebih efisien. Di sisi lain, swasta harus lebih berani berinvestasi di infrastruktur pascapanen,” desaknya.
Ia optimis, jika model edamame dan okra ini bisa direplikasi ke komoditas lain seperti buncis, paprika, atau asparagus, Indonesia akan memiliki daya tawar yang jauh lebih kuat di pasar pangan global.
“Intinya sederhana, fokus pada kualitas, bukan sekadar kuantitas. Edamame dan okra sudah membuktikan itu. Saatnya komoditas minor lainnya ikut serta,” pungkas Mahendra Utama.
Baca juga : Syair Edamame dan Okra di Bumi Jember, Karya: Mahendra Utama
