Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Saburai » Menjelajah Kuliner Metro: Rujak Petir dan Campanella yang Menggoda

    Menjelajah Kuliner Metro: Rujak Petir dan Campanella yang Menggoda

    by Editor354
    27/07/2026
    in Saburai
    Menjelajah Kuliner Metro

    Ilustrasi: OpiniMahe: Menjelajah Kuliner Metro: Rujak Petir dan Campanella yang Menggoda. (Sumber Foto: Dok. Lappung.COM).

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Menjelajah Kuliner Metro: Rujak Petir dan Campanella yang Menggoda.

     

    Menjelajah Kuliner Metro: Rujak Petir dan Campanella yang Menggoda
    Oleh: Mahendra Utama*

     

    Perjalanan Santai Menuju Kota Metro

    Sabtu sore, 26 Juli 2026 pukul 15.40 WIB, saya dan istri memutuskan mencari kulineran di Kota Metro. Berjarak 35 km dari Tanjungkarang Barat, kami memilih jalur nasional ZA Pagar Alam lalu Jalan Alamsyah Ratu Prawira Negara Natar hingga pertigaan Tegineneng.

    Mengapa jalan nasional yang sudah puluhan tahun? Jawabannya sederhana: karena kami tidak terburu-buru. Perjalanan santai justru memberi ruang untuk menikmati setiap tikungan dan pemandangan khas Lampung.

    Rujak Petir: Segar dan Ramai Pengunjung

    Tepat pukul 16.54 WIB kami tiba di Rujak Petir, Gang Palem, Kelurahan Mulyojati, Metro Barat. Suasana sudah penuh sesak pengunjung antre panjang untuk menikmati hidangan.

    Kami memesan Rujak, 2 Kelapa Muda, dan Nasi Rames. Totalnya hanya sekitar Rp140 ribu, harga yang sangat ramah di kantong.

    Rujak Petir menyajikan buah segar dari petani sekitar Metro: mangga, jambu, bengkoang, dan kedondong, dengan bumbu khas yang menggugah selera. Yang menarik, tempat ini memiliki nilai sosial tinggi.

    Owner Rujak Petir, Baskoro Wicaksono, membangun usahanya dari keprihatinan terhadap petani buah yang selalu dihargai murah. “Rujak Petir, Local Farm memang kita bangun itu untuk kita peduli,” ujarnya. Bahkan mereka berkomitmen mendonasikan 100% keuntungan dari Local Farm untuk aksi kemanusiaan.

    Campanella Coffee: Keindahan di Tengah Sawah

    Seusai Magrib sekitar pukul 18.27 WIB, kami melanjutkan perjalanan ke Campanella Coffee and Eatery di Jalan Letjend Alamsyah Ratu Prawira Negara, Metro Pusat. Tempat ini menyuguhkan konsep mewah dan estetik di tengah sawah pengalaman nongkrong yang berbeda dari kafe kebanyakan.

    Kami memesan Americano, Singkong Goreng, dan 2 botol air mineral dengan harga sekitar Rp70 ribu. Fasilitasnya sangat baik dan bersih, dengan taman belakang outdoor yang asri.

    Saya berbisik kepada istri, “Kafe seperti ini pasti jadi favorit, tua maupun muda.” Malam itu pengunjung sangat ramai, membuktikan bahwa bukan hanya suasana yang dicari, tapi juga kualitas hidangan dan harga yang masuk akal.

    Campanella buka setiap hari pukul 11.00–22.00 WIB, dengan menu lengkap dari western, asian, hingga nusantara.

    Kota Metro: Pusat Kuliner yang Naik Kelas

    Pukul 21.51 WIB kami beranjak pulang. Kesan yang membekas: Kota Metro kini semakin punya daya tarik kuliner dan tempat nongkrong berkelas bukan hanya untuk warga Metro dan sekitarnya, tapi juga warga Bandar Lampung.

    Secara teori Siklus Hidup Destinasi Wisata (Butler), Metro sedang bertransisi dari tahap involvement menuju development. Warisan kuliner seperti Sate Pak Saleh dan Pindang Baung adalah fondasi autentik, sementara kafe modern adalah elemen amenitas yang memperpanjang masa tinggal wisatawan.

    Richard Florida dalam The Rise of the Creative Class menekankan bahwa kota yang ramah terhadap kreativitas akan mengalami lompatan ekonomi. Kafe bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan “ruang ketiga” untuk berjejaring dan melahirkan ide.

    Metro memenangkan kontestasi dari sisi experience biaya operasional lebih rendah memungkinkan konsep unik dengan harga kompetitif, dan lokasinya yang strategis di tengah Lampung menjadikannya titik temu ideal.

    Terima kasih Ya Allah, telah Engkau perjalankan kami berdua dengan kenikmatan yang tiada tara. (*)
    ——————————————————————–
    * Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan.

    Via: M. Satria
    Tags: #MahendraUtama#PemerhatiPembangunanCampanellaCoffeeKulinerMetroMetroNaikKelasOpiniMaheRujakPetirWisataKulinerLampung
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Gerbang Sumatera Berbayar Mahal: Mengapa Biaya Logistik Lampung Tak Pernah Kompetitif

    Related Posts

    Saburai

    Gerbang Sumatera Berbayar Mahal: Mengapa Biaya Logistik Lampung Tak Pernah Kompetitif

    26/07/2026
    Saburai

    Lampung, Lumbung Bibit Unggul Perkebunan Nasional yang Dinanti

    25/07/2026
    Saburai

    Menunda Gaji Buruh: Dosa Sosial Islam dan Peringatan Keras Rasulullah

    25/07/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Dewan Kawasan Industri Nasional: Terobosan Akselerasi Hilirisasi dan Investasi Berkelanjutan

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Lampung, Lumbung Bibit Unggul Perkebunan Nasional yang Dinanti

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Prabowo-Gibran Solid: Clear Facts Behind the Cabinet Seat

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Strategi Memaksimalkan Pelabuhan Panjang Sebagai Hub Ekspor-Impor Global Lampung

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Sinyal Politik Modern PKB melalui Kaos Prabowonomics

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gerbang Sumatera Berbayar Mahal: Mengapa Biaya Logistik Lampung Tak Pernah Kompetitif

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    Exit mobile version