Lappung – Perhelatan akbar Ijtima Ulama Dunia dan Tabligh Akbar “Indonesia Berdoa” di kawasan Kota Baru, Lampung Selatan, tidak hanya menjadi magnet spiritual berskala internasional.
Kegiatan ini terbukti menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang masif dengan estimasi perputaran uang mencapai puluhan miliar rupiah hanya dalam 3 hari pelaksanaan.
Baca juga : Ijtima Ulama Dunia 2025: Pengamanan Dimaksimalkan, Peserta Mulai Masuk Lampung
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyoroti dampak ekonomi signifikan ini saat melakukan tinjauan langsung ke lokasi acara, Minggu, 30 November 2025.
Menurutnya, kehadiran ratusan ribu jamaah menciptakan pasar raksasa yang langsung dinikmati oleh pelaku usaha kecil di daerah.
“Kegiatan ini bukan hanya soal ibadah dan silaturahmi, tetapi juga membawa berkah ekonomi nyata.
“Banyak masyarakat, terutama pedagang kecil dan UMKM di wilayah Lampung Selatan, yang merasakan lonjakan omset berkali lipat,” ujar Gubernur Mirza.
Berdasarkan data tim gabungan, acara yang berlangsung pada 28–30 November 2025 ini dipadati lebih dari 575.000 jamaah dari berbagai penjuru nusantara, ditambah 8.500 peserta internasional dari 99 negara.
Jika dikalkulasikan dengan asumsi sederhana, di mana setiap jamaah membelanjakan minimal Rp10.000 untuk sekali makan, maka pengeluaran harian per orang bisa mencapai Rp30.000.
Dengan jumlah massa sebanyak 575 ribu orang, perputaran uang per hari diperkirakan menembus Rp17 miliar.
“Dalam 3 hari penyelenggaraan, setidaknya ada perputaran uang lebih dari Rp51 miliar.
“Itu hitungan konservatif hanya dari sisi konsumsi makanan dan minuman, belum termasuk belanja logistik lain, transportasi, dan akomodasi,” tambah Gubernur.
Baca juga : Gerak Cepat Prabowo Subianto dan Jalan Lapang Reformasi 2025
Pantauan di lapangan menunjukkan multiplier effect (dampak berganda) yang luas.
Ratusan lapak kuliner, warung kelontong, hingga penjual suvenir di sekitar lokasi acara tak henti-hentinya melayani pembeli.
Sektor jasa transportasi dan akomodasi pun ketiban rezeki.
Okupansi penginapan di wilayah penyangga seperti Natar, Jati Agung, hingga Bandarlampung dilaporkan meningkat tajam.
Jasa transportasi, mulai dari angkutan desa, ojek online, hingga penyewaan kendaraan, juga mengalami lonjakan permintaan signifikan.
Kesuksesan Ijtima Ulama Dunia ini, menurut Gubernur Mirza, mempertegas potensi Lampung sebagai destinasi kegiatan besar (MICE).
Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen menjadikan strategi ekonomi berbasis event sebagai salah satu prioritas pembangunan.
“Kita ingin Lampung dikenal sebagai tuan rumah yang ramah dan aman untuk event nasional maupun internasional.
“Kuncinya, setiap acara besar harus memberi manfaat ekonomi langsung ke kantong masyarakat,” tandasnya.
Baca juga : Dianggap Perilaku Menyimpang, LGBT Akan Diatur Lewat Perda di Lampung
