Lappung – Gajah bernama Mambo penghuni PLG di Taman Nasional Way Kambas mati pada Jumat, 23 Juni 2023.
Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, diliputi kedukaan setelah Mambo, seekor Gajah Sumatera jantan berumur 45 tahun meninggal dunia.
Baca juga : Geopark Suoh Mirip Taman Nasional Yellowstone di USA
Tim medis pun segera dikerahkan untuk menyelidiki penyebab kematian yang mendadak ini dan melakukan nekropsi untuk memastikan penyebab pastinya.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNWK Hermawan, membenarkan soal informasi ini.
Ia menjelaskan, berdasarkan catatan medis Gajah Mambo adalah gajah yang tidak pernah gemuk.
Mambo, lanjutnya, memiliki Body Condition Index atau BCI hampir selalu bernilai 3 bahkan terkadang kurang dari itu.
“Semasa hidupnya tim medis telah melakukan pemeriksaan darah berulang, namun tidak ditemukan adanya kelainan/sakit tertentu,” ujar Hermawan, Sabtu, 24 Juni 2023.
Saat ini, sambungnya, tim dokter telah melakukan nekropsi untuk mencari informasi penyebab kematian dari Gajah Sumatera di TNWK.
Baca juga : Krui Pro dan TNBBS Wisata Paket Lengkap
Sebelumnya, kata Hermawan, Gajah Mambo terlihat normal dan beraktivitas seperti biasa untuk makan dan minum.
Saat itu, para mahout PLG (Pusat Lektur Gajah) mengeluarkan gajah dari kandang untuk digembalakan.
“Ketika itu Mambo dalam kondisi masih berdiri di kandangnya, dan sekitar pukul 06.45 WIB, Mambo terpantau dalam kondisi roboh,” kata dia.
Usai melihat kondisi itu, para mahout mencoba membangunkan Gajah Mambo menggunakan bantuan gajah-gajah lain.
“Upaya itu tidak berhasil dan kondisi gajah sumatera semakin melemah,” jelas dia.
Gajah Mambo di Taman Nasional Way Kambas mati
“Pukul 07.10 WIB, Jumat, 23 Juni 2023, oleh tim medis PLG TNWK Gajah Mambo dinyatakan telah mati,” ungkapnya lagi.
Sementara, tim medis Balai TNWK yang dipimpin oleh Drh Diah Esti Anggraini, mengaku telah mengambil sampel Mambo untuk diperiksa lebih lanjut.
Sampel organ hasil nekropsi itu, lanjutnya, berupa hati, jantung, paru-paru, ginjal, limpa, usus, lambung dan otak.
“Nanti akan dilakukan pemeriksaan laboratorium di BBVET Bandarlampung untuk mengetahui penyebab kematiannya,” tandasnya.
Baca juga : Putri Indonesia Kunjungi Pesawaran
Sekadar informasi, gajah jinak di Balai TNWK saat ini ada 64 ekor, di PLG 34 ekor dan 4 Elephant Response Unit (ERU) camp 30 ekor.
ERU camp sendiri merupakan program kerjasama dengan Komunitas untuk Hutan Sumatera (KHS).
KHS bertujuan untuk membantu mitigasi terjadinya interaksi negatif antara gajah liar di kawasan TNWK dengan masyarakat di sekitarnya
PLG sendiri yang kala itu merupakan Pusat Latihan Gajah, namun saat ini tengah berbenah diri dan bertransformasi menjadi Pusat Lektur Gajah.
PLG tetap merawat gajah jinak yang ada sesuai kaidah kesejahteraan satwa (animal welfare).
Peluang adanya potensi wisata minat khusus terbatas dengan keberadaan gajah jinak, tengah dikembangkan konsepnya dengan memperhatikan prinsip kesejahteraan satwa.
Juga mengedepankan nilai edukasi konservasi berbasis gajah.
Sehingga, pengunjung dapat belajar menghargai keberadaan gajah di alam dan bersama mencari solusi hidup berdampingan bersama gajah.
Wisata alam PLG Balai TNWK maupun lokasi lainnya di TNWK diharapkan juga akan menjadi pemantik bertumbuhkembangnya potensi wisata desa penyangga.
Konektivitas yang terbentuk akan membangkitkan berputarnya roda ekonomi lokal.
Baca juga : Wisata Lanakila Lake Dorong Geliat Perekonomian Pringsewu
