Lappung – Langkah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal (Mirza), yang secara maraton melakukan kunjungan kerja (kunker) ke 5 kabupaten dalam beberapa waktu terakhir menuai respons positif.
Gaya kepemimpinan yang turun langsung ke lapangan ini dinilai bukan sekadar ritual seremonial, melainkan upaya konkret meruntuhkan tembok pemisah antara kebijakan di atas meja dan realitas di lapangan.
Baca juga : Lampung Juara 3 PPD Nasional 2025
Hal tersebut diungkapkan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menanggapi rangkaian kunjungan Gubernur ke Tanggamus, Lampung Barat, Pesisir Barat, Waykanan, dan sekitarnya.
“Seringkali data statistik di meja birokrat terlihat menjanjikan, tapi fakta di lapangan berbicara lain.
“Apa yang dilakukan Iyai Mirza dengan turun langsung dari sentra sayur di Sukau hingga dermaga Pesisir Barat adalah validasi data yang sesungguhnya,” ujar Mahendra Utama, Rabu, 24 Desember 2025.
Menurut Mahendra, fokus Gubernur pada sektor pertanian dan infrastruktur di wilayah pelosok menunjukkan keberpihakan pada pembangunan inklusif.
Ia mencontohkan kunjungan ke sentra sayur di Sukau, Lampung Barat, yang dinilainya sangat strategis mengingat pertanian adalah tulang punggung ekonomi Lampung.
“Setiap daerah punya keunggulan. Tugas pemerintah adalah memaksimalkan itu.
“Dengan melihat langsung, keluhan petani soal logistik atau infrastruktur bisa dijawab dengan aksi nyata, bukan janji.
“Ini memastikan program Desaku Maju tidak berakhir sekadar slogan,” tegasnya.
Dalam pengamatannya, Mahendra juga menyoroti keharmonisan antara Pemerintah Provinsi dan Kabupaten selama kunker berlangsung.
Sambutan hangat dan koordinasi solid yang ditunjukkan para kepala daerah, seperti Bupati Pesisir Barat Dedi Irawan serta para bupati di Tanggamus dan Waykanan, menjadi sinyal positif.
Baca juga : Kawasan Metropolitan Lampung Raya: Kunci Pemerataan Ekonomi Lewat Koordinasi Regional
Mahendra menilai, sinergi tersebut krusial untuk mencegah penyakit lama pembangunan, program pusat yang macet di tengah jalan.
“Teori trickle down effect atau tetesan kemakmuran ke bawah seringkali macet karena koordinasi yang buruk.
“Tanpa sinergi erat provinsi dan kabupaten, program sebagus apa pun hanya akan jadi pajangan.
“Keselarasan visi Lampung Maju Menuju Indonesia Emas ini yang akan memastikan manfaat sampai ke lapisan terbawah,” jelas tokoh yang juga dikenal sebagai Eksponen 98 ini.
Menutup pandangannya, Mahendra menekankan bahwa strategi konektivitas antar wilayah yang diusung pasangan Rahmat Mirzani Djausal-Jihan Nurlela merupakan langkah berani untuk mengurangi ketimpangan antara Bandarlampung dan daerah pinggiran.
Ia menyebut gerilya lapangan di awal masa jabatan ini adalah investasi sosial yang mahal namun penting.
Harapan menjadikan Lampung lumbung pangan dan energi nasional kini terasa lebih realistis jika konsistensi itu terjaga.
“Sekarang tugas kita bersama mengawal. Pastikan hasil belanja masalah di lapangan ini dikonversi menjadi belanja solusi dalam APBD yang benar-benar berpihak pada rakyat,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Menakar Visi Rahmat Mirzani Djausal: Sudahkah Paham Betul Masalah Lampung?





Lappung Media Network