Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Hilirisasi Agroindustri Tanpa Kemasan, Ibarat Makanan Tanpa Bumbu.
Hilirisasi Agroindustri Tanpa Kemasan, Ibarat Makanan Tanpa Bumbu
Oleh: Mahendra Utama*
Hilirisasi dan Kemasan Adalah Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Provinsi Lampung saat ini berada di garda terdepan program hilirisasi nasional. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menargetkan transformasi ekonomi dari penjualan bahan mentah menuju produk bernilai tambah. Bahkan, Bappenas telah berkomitmen mendukung Lampung sebagai pusat hilirisasi sektor pertanian nasional.
Namun ada satu pertanyaan mendasar: di mana produk olahan itu akan dikemas?
Hilirisasi tanpa kemasan yang memadai ibarat makanan tanpa bumbu, ada proses, tapi cita rasa nilai tambahnya hilang. Ini bukan sekadar kiasan, melainkan fakta ekonomi.
Dalam teori Global Value Chain (Gereffi dkk., 2005), kemasan dan pelabelan adalah bagian dari aktivitas midstream yang menyumbang 30–40 persen nilai tambah dalam rantai pangan.
Sementara bahan mentah hanya menyumbang 5–10 persen nilai, pengolahan 10–20 persen, dan logistik 10–15 persen. Kemasan justru berada di porsi nilai tambah terbesar. Mengabaikan kemasan berarti kehilangan sebagian besar potensi keuntungan.
Fakta di Lampung: Kemasan Jadi Penentu Daya Saing
Data menunjukkan baru 30 persen komoditas Lampung yang dihilirisasi, sisanya 70 persen masih dijual dalam bentuk mentah. Padahal potensi nilai komoditas Lampung mencapai lebih dari Rp100 triliun.
Managing Director PT Buhler Indonesia, Philip de Mayer, menegaskan bahwa tantangan terbesar Lampung bukan pada kualitas bahan baku, kakao Lampung bahkan memiliki cita rasa lebih kuat dari daerah lain melainkan terbatasnya kapasitas pengolahan pascapanen.
Keterbatasan ini mencakup kemasan. Lonjakan harga plastik akibat konflik global membuat biaya produksi UMKM melonjak, bahkan ada yang terpaksa beralih ke kemasan daun. Ini bukan solusi jangka panjang untuk produk yang ingin menembus pasar ekspor.
Rekomendasi untuk Gubernur Mirza: Kemasan Masuk dalam Rencana Hilirisasi
Seperti dikatakan Gubernur Mirza, “hilirisasi harus mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, terutama petani, melalui peningkatan harga jual hasil panen, penciptaan lapangan kerja, hingga tumbuhnya industri pengolahan di daerah”.
Saya menyarankan:
1. Memasukkan industri kemasan sebagai komponen wajib dalam setiap kawasan industri yang dikembangkan, termasuk Kawasan Industri Kakao 50 hektare di Lampung Timur dan empat kawasan industri lainnya.
2. Memberikan insentif bagi investasi pabrik kemasan plastik dan kertas di Lampung, mengingat perubahan strategi UMKM membuka peluang industri kemasan lokal yang inovatif.
3. Membangun pusat kemasan bersama di setiap kabupaten sebagai fasilitas bagi UMKM agroindustri.
Hilirisasi tanpa kemasan adalah setengah langkah. Jika Lampung ingin benar-benar menjadi pusat agroindustri nasional, industri kemasan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari peta jalan pembangunan.
Karena pada akhirnya, produk olahan yang baik pun tidak akan berarti jika tidak sampai ke tangan konsumen dalam kemasan yang layak. (*)
——————————————————————
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.
