Lappung – Aroma manis cokelat kini menguar dari Kecamatan Bulok, Tanggamus, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung utama kakao di Provinsi Lampung.
Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Suka Agung 5 kini tidak lagi hanya menjadi pemasok biji mentah, melainkan telah bertransformasi menjadi produsen cokelat premium dengan cita rasa khas yang menggali potensi lokal.
Baca juga : Permintaan Tapioka Dunia Anjlok, Petani Singkong Lampung Terjepit Harga Murah
Melalui program hilirisasi yang didampingi oleh akademisi dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela), para petani berhasil menciptakan produk olahan bernilai tinggi, salah satunya cokelat pralin.
Uniknya, pralin ini tidak hanya menawarkan rasa manis, tetapi juga jejak rasa khas Bumi Ruwa Jurai, seperti kopi robusta Lampung, jahe, hingga sale pisang.
Langkah ini menjadi jawaban atas tantangan klasik di dunia agrikultur: rendahnya harga jual komoditas mentah.
Dengan mengolah biji kakao menjadi produk siap konsumsi, para petani mampu melipatgandakan nilai ekonomi hasil panen mereka secara signifikan.
Kunci Branding
Program “Pemberdayaan Masyarakat melalui Diversifikasi Pengolahan dan Penguatan Branding Produk Hilir Kakao” yang dipimpin oleh Dayang Berliana, Sp., M.Si dari Polinela, menjadi momentum kebangkitan bagi para petani di Pekon Suka Agung.
Baca juga : Harga Tembus Rp60 Ribu, Petani Dairi Sumut Ramai-ramai Tanam Kopi Lampung
Mereka yang sebelumnya hanya terbatas memproduksi bubuk cokelat dan lemak kakao dengan merek KiHaKo Cokelat, kini didorong untuk berinovasi.
Fokus utama pendampingan adalah pada pembuatan cokelat pralin, sebuah produk yang dinilai memiliki prospek pasar cerah di segmen menengah ke atas.
“Keunggulan utama pralin terletak pada variasi rasa, tampilan menarik, dan kesan mewah,” jelas Dr. Analianasari, S.T.P., M.T.A, salah satu akademisi yang terlibat langsung dalam pelatihan produksi, pada Senin, 25 Agustus 2025.
Menurutnya, pralin membuka ruang kreativitas tanpa batas.
Di tangan petani Tanggamus, cokelat berpadu dengan isian lokal seperti pasta kopi Lampung, jahe, pala, bahkan renyahnya keripik dan sale pisang.
Kombinasi ini menciptakan identitas unik yang membedakannya dari produk cokelat pabrikan.
“Ini bukan sekadar kudapan, tetapi juga pengalaman rasa. Inovasi ini menjadi kekuatan branding utama untuk menembus pasar yang lebih luas,” tambah Analianasari.
Di lain sisi, Kelompok Tani Suka Agung 5 yang diketuai Nasrudin sebenarnya telah memiliki modal awal berupa sejumlah mesin pengolahan kakao.
Baca juga : Daya Beli Petani Lampung Melemah, NTP Juli 2025 Turun 2,46 Persen
Peralatan seperti mesin roasting, desheller, hingga mesin pasta kakao merupakan hasil hibah Dana Aspirasi pada tahun 2020.
Namun, selama beberapa tahun, pemanfaatan alat tersebut belum optimal.
Program dari Polinela inilah yang memaksimalkan potensi tersebut dan membuka jalan bagi diversifikasi produk yang lebih serius.
Kini, tantangan berikutnya sudah di depan mata. Untuk naik ke level produksi cokelat batangan (single origin) berkualitas tinggi khas Lampung, mereka membutuhkan satu alat krusial: mesin ball mill 3 in 1 yang berfungsi untuk proses mixing, grinding, dan conching.
“Kami sangat berharap ada dukungan dari pemerintah, terutama pemerintah provinsi. Dengan mesin ball mill, kami bisa mengangkat cokelat Bulok sebagai produk single origin cokelat Lampung yang bisa bersaing,” ungkap Nasrudin.
Dengan total produksi kakao rakyat Lampung yang mencapai 45.638 ton pada 2023 di atas lahan seluas 76.600 hektare, hilirisasi menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditawar.
Upaya yang dilakukan di Tanggamus adalah bukti nyata bahwa petani bisa menjadi pemain utama dalam rantai nilai industri.
Lahirnya produk pralin dan bubuk cokelat premium dari tangan petani tidak hanya menambah nilai ekonomi, tetapi juga membuka jalan bagi kebangkitan cokelat lokal di pasar nasional, bahkan internasional.
Baca juga : Dongkrak Produktivitas, Petani Sawit Mesuji Diguyur Bantuan Rp60 Juta per Hektare





Lappung Media Network