Lappung – Konektivitas udara di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memasuki babak baru.
Beroperasinya maskapai Wings Air untuk rute Jember-Denpasar (PP) dan Jember-Jakarta dinilai sebagai terobosan strategis yang vital bagi perekonomian daerah, bukan sekadar penambahan jadwal transportasi semata.
Baca juga : Jember: Dari Aroma Tembakau Dunia, Menuju Gurihnya Edamame Global
Hal tersebut ditegaskan oleh Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.
Menurutnya, pembukaan jalur udara ini adalah jawaban atas masalah klasik isolasi wilayah yang selama ini menghambat potensi besar Jember.
“Ini kabar menarik dari ujung timur Jawa. Bagi sebagian orang mungkin ini cuma soal jadwal terbang, tapi bagi Jember, ini menyangkut nasib ekonomi daerah.
“Konektivitas yang buruk itu ibarat penyakit kronis yang menggerogoti daya saing, dan sekarang obatnya mulai ada,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Minggu, 7 Desember 2025.
Potensi Melimpah yang Sempat Terisolasi
Mahendra menyoroti paradoks yang selama ini terjadi di Jember.
Daerah ini memiliki kekayaan sumber daya alam dan pariwisata yang luar biasa, mulai dari lahan pertanian luas, pantai pesisir selatan yang eksotis, komoditas ekspor kopi dan tembakau, hingga ajang internasional Jember Fashion Carnaval.
Namun, akses darat yang memakan waktu lama membuat berlian tersebut sulit dijangkau investor.
“Selama itu perjalanan darat memakan waktu setengah hari. Bagi pengusaha yang memegang prinsip time is money, ini inefisiensi.
“Akibatnya, banyak peluang bisnis terlewat dan investor urung datang karena akses yang ribet,” jelasnya.
Efek Domino Ekonomi
Dengan terhubungnya Jember ke Jakarta sebagai pusat ekonomi pemerintahan dan Denpasar sebagai gerbang wisata internasional, Mahendra optimistis akan terjadi efek domino positif.
Ia memaparkan skenario efisiensi yang kini bisa terjadi: pengusaha dari Jakarta bisa melakukan perjalanan bisnis pagi berangkat, sore pulang.
Begitu pula wisatawan yang transit di Bali, kini memiliki opsi mudah untuk melanjutkan pelesiran ke Jember tanpa harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan.
Baca juga : Bandara Jember Bangkit Dongkrak Ekonomi
“Di era sekarang, yang cepat memakan yang lambat. Kota dengan akses udara baik seperti Lombok atau Labuan Bajo terbukti lebih cepat menarik investasi.
“Menghubungkan Jember dengan Jakarta dan Bali artinya menghubungkan daerah ini dengan dua sumber pertumbuhan ekonomi terbesar di Indonesia,” tegas Mahendra.
Dampak turunannya, lanjut Mahendra, akan dirasakan langsung oleh sektor riil.
Okupansi hotel dan restoran diprediksi meningkat, destinasi wisata seperti Pantai Papuma dan Taman Nasional Meru Betiri akan lebih dikenal, serta UMKM memiliki akses pasar yang lebih luas.
Apresiasi Langkah Pemkab Jember
Meski saat ini penerbangan masih menggunakan pesawat jenis Turboprop dan infrastruktur Bandara Notohadinegoro masih membutuhkan perluasan untuk menampung pesawat jet berbadan lebar, Mahendra menilai langkah awal tersebut patut dihargai.
Menurutnya, data penumpang yang terbentuk dari rute itu kelak akan menjadi argumen kuat untuk pengembangan infrastruktur bandara di masa depan.
“Daripada tidak ada sama sekali, lebih baik ada meski terbatas. Fondasi sudah mulai dibangun,” katanya.
Secara khusus, Mahendra juga mengapresiasi langkah Bupati Jember, Muhammad Fawait, yang dinilai serius memperjuangkan konektivitas ini.
“Di tengah banyaknya janji pembangunan yang seringkali hanya retorika, langkah konkret Bupati Fawait ini jauh lebih bermakna.
“Memang masih banyak PR seperti upgrade bandara atau promosi wisata, tapi setidaknya Jember kini sudah mulai membuka sayapnya,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Revitalisasi Bandara Notohadinegoro: Katalisator Pertumbuhan Ekonomi Jember dan Wilayah Tapal Kuda





Lappung Media Network