Lappung – Setelah lama vakum, Bandara Notohadinegoro di Jember, Jawa Timur, akhirnya kembali beroperasi.
Penerbangan perdana rute Jember-Jakarta oleh maskapai Fly Jaya menandai era baru konektivitas yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Baca juga : Tembakau Jember: Napas Ekonomi Nusantara
Langkah reaktivasi ini menjadi sorotan karena pendekatan strategis yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember di bawah kepemimpinan Bupati Muhammad Fawait.
Alih-alih membebani APBD, Pemkab memilih skema Kemitraan Pemerintah dan Swasta (KPS) dengan menggandeng investor.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai langkah itu sebagai sebuah terobosan cerdas.
Menurutnya, reaktivasi bandara bukan sekadar mengembalikan lalu lintas udara, melainkan membuka gerbang harapan bagi perekonomian daerah yang selama ini terhambat oleh aksesibilitas.
“Ini bukan hanya soal pesawat yang mendarat lagi. Ini adalah tentang harapan, konektivitas yang tersambung kembali, dan dorongan kuat yang dibutuhkan ekonomi daerah,” ujar Mahendra Utama, Senin, 29 September 2025.
Ia menjelaskan, Pemkab Jember menunjukkan pemahaman bahwa pembangunan infrastruktur harus strategis dan berkelanjutan, bukan sekadar ambisius.
“Mereka cerdik merangkul investor swasta. Ini membuktikan bahwa pembangunan tidak harus selalu membebani anggaran daerah jika dikelola dengan visi yang tepat,” tambahnya.
Proses reaktivasi ini turut didukung oleh Otoritas Bandar Udara dan transfer pengetahuan dari personel Bandara Trunojoyo, Sumenep.
Untuk tahap awal, maskapai Fly Jaya akan melayani rute Jember-Jakarta dua kali seminggu menggunakan pesawat jenis ATR 72-500.
Bagi Mahendra, Bandara Notohadinegoro kini menjadi simbol harapan yang lebih luas.
Baca juga : Revitalisasi Bandara Notohadinegoro: Katalisator Pertumbuhan Ekonomi Jember dan Wilayah Tapal Kuda
Kehadirannya diyakini akan menjadi magnet bagi investor yang sebelumnya ragu menanamkan modal di Jember.
Selain itu, sektor pariwisata, terutama event berskala internasional seperti Jember Fashion Carnaval (JFC), diperkirakan akan mendapat dampak positif signifikan dengan adanya akses penerbangan langsung.
“Bandara ini adalah pintu harapan. Bagi investor, pariwisata, hingga upaya pengentasan kemiskinan ekstrem yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah,” tegasnya.
Meski demikian, Mahendra mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya baru dimulai.
Keberhasilan proyek ini akan diukur dari dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat.
“Sekarang tinggal kita lihat, apakah setiap pesawat yang lepas landas dari sini benar-benar membawa kesejahteraan bagi warga.
“Semoga janji peningkatan ekonomi ini bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar terwujud,” pungkasnya.
Baca juga : Mengurai Dinamika Ekonomi Jember: Antara Krisis dan Peluang





Lappung Media Network