Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Jual Pasir Putih, Beli Masa Depan: Dilema Pariwisata Pantai Lampung

    Jual Pasir Putih, Beli Masa Depan: Dilema Pariwisata Pantai Lampung

    by Irzon Dwi Darma
    24/12/2025
    in Gaya Hidup
    Jual Pasir Putih, Beli Masa Depan: Dilema Pariwisata Pantai Lampung

    Ilustrasi-Pesona keindahan pantai di Lampung yang menjadi magnet wisatawan, namun masih dibayangi tantangan pengelolaan sampah dan infrastruktur penunjang yang belum merata. Foto: Arsip Lappung/I

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Provinsi Lampung kini tak lagi sekadar menjadi gerbang penghubung Pulau Sumatera dan Jawa.

    Dengan garis pantai yang membentang panjang dari Pesisir Barat hingga Mesuji, daerah ini telah bertransformasi menjadi destinasi wisata unggulan.

    Baca juga : Wisatawan Melonjak dan Dapat Award, Pemprov Lampung Punya PR Jaga Konsistensi Infrastruktur

    Namun, di balik lonjakan kunjungan wisatawan sepanjang 2024 hingga awal 2025, muncul kekhawatiran mengenai daya tahan industri pariwisata di Bumi Ruwa Jurai ini.

    Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti fenomena ini sebagai sebuah dilema.

    Menurutnya, pemerintah daerah harus memastikan apakah karpet merah yang digelar untuk wisatawan saat ini mampu menjaga napas panjang destinasi wisata di masa depan.

    “Pariwisata itu industri kebahagiaan. Kalau pemerintah hanya sibuk memoles gerbang masuk tanpa peduli kelestarian alam dan kenyamanan pengunjung, kejayaan pantai Lampung hanya akan jadi euforia sesaat yang cepat pudar,” tegas Mahendra Utama, Rabu, 25 Desember 2025.

    Surga Peselancar Dunia

    Berdasarkan pengamatannya, Mahendra memaparkan bahwa wisatawan lokal masih menjadi tulang punggung pariwisata Lampung.

    Keberadaan Tol Trans Sumatera terbukti signifikan mendongkrak kunjungan pelancong dari Jakarta, Palembang, dan warga lokal Lampung sendiri menuju destinasi populer di Lampung Selatan dan Pesawaran.

    “Pantai-pantai seperti Marina dan Minang Rua selalu penuh saat akhir pekan. Akses yang mudah membuat kawasan ini jadi favorit,” ujarnya.

    Sementara itu, segmen wisatawan mancanegara masih didominasi oleh kawasan Pesisir Barat, khususnya Krui.

    Ombak Pantai Tanjung Setia yang berkelas dunia sukses menarik minat peselancar dari Australia, Eropa, dan Amerika.

    Baca juga : Membangkitkan Pariwisata Lampung: Solusi Nyata untuk 3 Kendala Klasik

    “Bagi turis asing ini, Lampung bukan sekadar soal foto cantik di media sosial, tapi tantangan di atas papan selancar. Ini pasar yang sangat potensial,” tambah Mahendra.

    Belajar dari Jawa Barat

    Meski memiliki potensi yang ia sebut sebagai menu lengkap mulai dari pantai landai di Pesawaran, tebing Gigi Hiu di Tanggamus, hingga atraksi lumba-lumba di Teluk Kiluan, Mahendra menilai Lampung masih memiliki pekerjaan rumah besar jika dibandingkan dengan provinsi tetangga, Jawa Barat.

    Ia mencontohkan kawasan Pangandaran yang dinilai lebih matang dalam hal konektivitas dan standar pelayanan.

    “Jawa Barat sudah mengintegrasikan transportasi publik dengan tata ruang wisata, plus pengelolaan sampah yang lebih rapi.

    “Lampung memang punya tol, tapi akses ‘ast mile ke pantai-pantai di pelosok Tanggamus atau Pesisir Barat masih sering terhalang jalan sempit atau rusak,” kritiknya.

    Ia menekankan pentingnya sinergi yang solid antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota agar sebaran wisatawan tidak menumpuk di satu titik saja.

    3 Prioritas Utama

    Agar pantai-pantai di Lampung tidak berakhir menjadi ladang musiman, Mahendra mendesak pemerintah untuk segera menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan secara serius, bukan sekadar jargon.

    Ia merinci 3 hal yang harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah saat ini:

    1. Regulasi Sampah yang Ketat: Tanpa sistem pengelolaan yang benar, Mahendra memprediksi pantai-pantai indah di Lampung bisa berubah menjadi tempat pembuangan plastik dalam satu dekade ke depan.
    2. Pemberdayaan Pokdarwis: Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) adalah garda terdepan. Investasi SDM lewat pelatihan manajemen dan standar pelayanan internasional dinilai wajib dilakukan.
    3. Digitalisasi Informasi: Pembangunan ekosistem digital yang transparan mengenai harga, akses, dan jaminan keamanan mutlak diperlukan untuk kenyamanan wisatawan.

    Mengutip pemikiran Philip Kotler, Mahendra menutup pandangannya dengan mengingatkan bahwa destinasi sukses bukan hanya soal pemandangan, melainkan pengalaman emosional.

    “Lampung punya segalanya, dari ketenangan hutan bakau hingga petualangan selancar yang memacu adrenalin.

    “Sekarang tinggal bagaimana kita mengemas dan menjaganya,” pungkasnya.

    Baca juga : Agoda: Lampung Jadi Bintang Baru Pariwisata, Minat Melonjak 103 Persen

    Tags: #PantaiLampung#TravelLampung#WisataIndonesia
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Suntik Rp100 Miliar, Bank Jatim Resmi Masuk Bank Lampung

    Next Post

    Refleksi di Penghujung 2025: Ucapan Natal dan Tahun Baru dari Seorang Pemerhati Pembangunan

    Related Posts

    Gaya Hidup

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    11/03/2026
    Gaya Hidup

    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung

    22/02/2026
    Gaya Hidup

    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai

    20/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Sering Sebut Galer? Selamat, Istilahmu Kini Resmi Masuk KBBI

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kakanwil BPN Sumsel Sambangi Kantah Banyuasin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Selamat Tinggal Tiket Manual, ASDP Targetkan 100 Persen Digital Oktober Ini

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kantor Pertanahan Banyuasin Kobarkan Gerakan Gemapatas 2025

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Mayjen Kristomei Sianturi, Putra Kotabumi Lampung, Jabat Pangdam Radin Inten

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    Exit mobile version