Lappung – Provinsi Lampung kini tak lagi sekadar menjadi gerbang penghubung Pulau Sumatera dan Jawa.
Dengan garis pantai yang membentang panjang dari Pesisir Barat hingga Mesuji, daerah ini telah bertransformasi menjadi destinasi wisata unggulan.
Baca juga : Wisatawan Melonjak dan Dapat Award, Pemprov Lampung Punya PR Jaga Konsistensi Infrastruktur
Namun, di balik lonjakan kunjungan wisatawan sepanjang 2024 hingga awal 2025, muncul kekhawatiran mengenai daya tahan industri pariwisata di Bumi Ruwa Jurai ini.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti fenomena ini sebagai sebuah dilema.
Menurutnya, pemerintah daerah harus memastikan apakah karpet merah yang digelar untuk wisatawan saat ini mampu menjaga napas panjang destinasi wisata di masa depan.
“Pariwisata itu industri kebahagiaan. Kalau pemerintah hanya sibuk memoles gerbang masuk tanpa peduli kelestarian alam dan kenyamanan pengunjung, kejayaan pantai Lampung hanya akan jadi euforia sesaat yang cepat pudar,” tegas Mahendra Utama, Rabu, 25 Desember 2025.
Surga Peselancar Dunia
Berdasarkan pengamatannya, Mahendra memaparkan bahwa wisatawan lokal masih menjadi tulang punggung pariwisata Lampung.
Keberadaan Tol Trans Sumatera terbukti signifikan mendongkrak kunjungan pelancong dari Jakarta, Palembang, dan warga lokal Lampung sendiri menuju destinasi populer di Lampung Selatan dan Pesawaran.
“Pantai-pantai seperti Marina dan Minang Rua selalu penuh saat akhir pekan. Akses yang mudah membuat kawasan ini jadi favorit,” ujarnya.
Sementara itu, segmen wisatawan mancanegara masih didominasi oleh kawasan Pesisir Barat, khususnya Krui.
Ombak Pantai Tanjung Setia yang berkelas dunia sukses menarik minat peselancar dari Australia, Eropa, dan Amerika.
Baca juga : Membangkitkan Pariwisata Lampung: Solusi Nyata untuk 3 Kendala Klasik
“Bagi turis asing ini, Lampung bukan sekadar soal foto cantik di media sosial, tapi tantangan di atas papan selancar. Ini pasar yang sangat potensial,” tambah Mahendra.
Belajar dari Jawa Barat
Meski memiliki potensi yang ia sebut sebagai menu lengkap mulai dari pantai landai di Pesawaran, tebing Gigi Hiu di Tanggamus, hingga atraksi lumba-lumba di Teluk Kiluan, Mahendra menilai Lampung masih memiliki pekerjaan rumah besar jika dibandingkan dengan provinsi tetangga, Jawa Barat.
Ia mencontohkan kawasan Pangandaran yang dinilai lebih matang dalam hal konektivitas dan standar pelayanan.
“Jawa Barat sudah mengintegrasikan transportasi publik dengan tata ruang wisata, plus pengelolaan sampah yang lebih rapi.
“Lampung memang punya tol, tapi akses ‘ast mile ke pantai-pantai di pelosok Tanggamus atau Pesisir Barat masih sering terhalang jalan sempit atau rusak,” kritiknya.
Ia menekankan pentingnya sinergi yang solid antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota agar sebaran wisatawan tidak menumpuk di satu titik saja.
3 Prioritas Utama
Agar pantai-pantai di Lampung tidak berakhir menjadi ladang musiman, Mahendra mendesak pemerintah untuk segera menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan secara serius, bukan sekadar jargon.
Ia merinci 3 hal yang harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah saat ini:
- Regulasi Sampah yang Ketat: Tanpa sistem pengelolaan yang benar, Mahendra memprediksi pantai-pantai indah di Lampung bisa berubah menjadi tempat pembuangan plastik dalam satu dekade ke depan.
- Pemberdayaan Pokdarwis: Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) adalah garda terdepan. Investasi SDM lewat pelatihan manajemen dan standar pelayanan internasional dinilai wajib dilakukan.
- Digitalisasi Informasi: Pembangunan ekosistem digital yang transparan mengenai harga, akses, dan jaminan keamanan mutlak diperlukan untuk kenyamanan wisatawan.
Mengutip pemikiran Philip Kotler, Mahendra menutup pandangannya dengan mengingatkan bahwa destinasi sukses bukan hanya soal pemandangan, melainkan pengalaman emosional.
“Lampung punya segalanya, dari ketenangan hutan bakau hingga petualangan selancar yang memacu adrenalin.
“Sekarang tinggal bagaimana kita mengemas dan menjaganya,” pungkasnya.
Baca juga : Agoda: Lampung Jadi Bintang Baru Pariwisata, Minat Melonjak 103 Persen
