Lappung – Ambisi Lampung bertransformasi dari lumbung pangan menjadi pusat hilirisasi agro nasional menghadapi tembok tebal, kesenjangan (mismatch) kompetensi tenaga kerja.
Rencana Kementerian Perindustrian mendirikan Balai Diklat Industri (BLK) spesifik agro di Lampung pada 2027 dinilai bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan investasi.
Baca juga : Pemprov Lampung-Kemenperin Gaet Investasi Industri Agro, Kopi dan Singkong Jadi Andalan
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti fenomena banyak ijazah, minim keahlian yang kini menjangkiti pasar kerja lokal.
Menurutnya, lulusan pendidikan formal sering kali gagap saat berhadapan dengan teknologi industri terkini.
“Kita harus jujur, berapa banyak lulusan kita yang siap mengoperasikan mesin refinery sawit modern atau paham teknik pengolahan singkong tingkat lanjut?
“Ijazah ada, tapi kompetensi spesifik nol. Ini yang membuat investor terpaksa mendatangkan tenaga kerja dari luar,” tegas Mahendra di Bandarlampung, Kamis, 15 Januari 2026.
Sertifikasi di Atas Teori
Mahendra menilai langkah Kemenperin yang didukung pemerintah daerah ini krusial karena BLK Industri memiliki DNA berbeda dengan sekolah umum.
Kurikulumnya berbasis unit kompetensi riil, bukan sekadar teori di atas kertas.
Mengacu pada konsep Human Capital dari Gary Becker, Mahendra menyebut investasi pada pelatihan spesifik adalah satu-satunya cara mendongkrak produktivitas secara instan.
“Industri butuh operator yang paham standar prosedur internasional dan tersertifikasi.
“Jika BLK ini berjalan sesuai jalurnya, kita sedang mencetak tenaga kerja ‘siap pakai’, bukan ‘siap latih’,” ujarnya.
Keunggulan Komparatif
Lebih jauh, Mahendra membedah potensi ekonomi Lampung melalui kacamata teori David Ricardo.
Baca juga : Hilirisasi, Kolaborasi, dan Energi Surya: Menakar Wajah Baru Industri Lampung 2025
Selama ini, Lampung terlena dengan keunggulan komparatif berupa sumber daya alam melimpah (kopi, sawit, singkong) namun miskin nilai tambah karena dijual mentah.
Kehadiran BLK Industri Agro diproyeksikan mengubah paradigma tersebut menjadi keunggulan kompetitif.
Dengan tersedianya SDM terampil lokal, biaya operasional investor bisa ditekan karena tidak perlu merekrut tenaga ahli dari Jawa atau luar negeri.
Sinergi Pusat-Daerah
Mahendra turut menggarisbawahi peran strategis para pemangku kebijakan dalam merealisasikan rencana ini.
Komitmen Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, dalam mendesentralisasi pusat pelatihan dinilai klop dengan visi Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.
“Gubernur Mirza punya visi jelas membawa Lampung keluar dari jebakan ekonomi komoditas.
“Sinergi tersebut, ditambah peran teknis Plt Kadis Perindag Zimmi Skil dalam eksekusi lapangan, menjadi kunci agar target 2027 tidak meleset,” tambah Mahendra.
Ia menekankan, jika dikelola profesional, BLK akan menjadi jembatan emas bagi kesejahteraan masyarakat.
“Target akhirnya jelas, mengurangi pengangguran terdidik dan memastikan warga Lampung menikmati kue pembangunan dari kekayaan alamnya sendiri,” pungkasnya.
Baca juga : Nasib Industri Lampung: Antara Lonjakan Agro dan Stagnasi Manufaktur Berat





Lappung Media Network