Lappung – Sebuah fakta yang menggelisahkan terungkap di tengah era digital, banyak anak-anak Indonesia ternyata tidak mampu membaca jam analog.
Kondisi ini disorot langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, yang menyebutnya sebagai alarm serius bagi rendahnya kemampuan numerasi bangsa.
Baca juga : 5 Musuh Utama Anak Indonesia Disorot di Peringatan HAN ke-41
Menurutnya, ketidakmampuan sederhana seperti membaca jarum jam menjadi cerminan dari masalah yang lebih besar, yakni lemahnya budaya berhitung yang berdampak langsung pada skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia.
“Saya menengarai, sebagian anak-anak kita itu tidak mampu membaca jam analog. Membaca jam digital itu bisa karena ada angkanya.
“Tetapi ketika sudah jam analog, ada jarum panjang, ada jarum pendek, tidak semuanya bisa membaca,” ujar Abdul Mu’ti, dilansir pada Rabu, 20 Agustus 2025.
Ia menegaskan bahwa kemampuan membaca jam analog bukanlah sekadar soal mengetahui waktu.
Di baliknya, ada pelatihan logika dan numerasi yang fundamental, seperti memahami konsep sudut, posisi, hingga keterampilan berhitung dasar yang esensial dalam kehidupan.
Baca juga : Ironi 3 Tahun UU TPKS, Korban Anak di Lampung Belum Pernah Dapat Ganti Rugi
“Padahal dari situ, anak tidak hanya tahu jam berapa, tapi juga bisa memahami sudut-sudut pergerakan jarum jam. Itu juga numerasi,” tambahnya.
Menurut Mu’ti, rendahnya skor PISA Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan-kebiasaan yang menggerus kemampuan berhitung dasar.
Salah satu yang paling kentara adalah ketergantungan anak pada kalkulator, bahkan untuk operasi hitung yang sangat sederhana.
“Jangan sampai ketika ada pertanyaan 4×4 sama dengan 16, harus pakai kalkulator.
“Kebiasaan-kebiasaan numerasi sederhana ini harus dibangun kembali,” katanya tegas.
Lebih lanjut, ia menyoroti citra matematika yang selama ini dianggap sebagai pelajaran sulit dan menakutkan.
Stigma ini, menurutnya, harus segera diubah agar numerasi menjadi bagian yang menyenangkan dari proses belajar.
“Dulu matematika sering disebut mati-matian, gurunya juga mengajarkan dengan cara yang bikin mumet. Akhirnya jadi momok. Kita harus ubah itu,” jelasnya.
“Matematika harus diajarkan dengan cara yang menyenangkan, joyfull, bahkan lewat cerita dan narasi,” tambahnya lagi.
Baca juga : Ayah dan Anak Pemalak Pedagang di Pasar Gudang Lelang Bandarlampung Ditangkap
Mu’ti juga memberikan contoh nyata bagaimana numerasi sangat dekat dengan kehidupan, namun seringkali dilupakan.
“Kebiasaan sederhana seperti membaca peta, menghitung estimasi waktu perjalanan, sampai memahami arah kiblat, semuanya bagian dari numerasi yang dekat dengan kehidupan kita,” ujarnya.
Dengan membiasakan anak-anak dengan numerasi praktis, Mu’ti berharap tidak hanya membangkitkan kecintaan mereka pada matematika, tetapi juga secara bertahap meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia di panggung global.
Baca juga : Pesisir Barat Genjot Literasi Anak Lewat Distribusi Buku KREASI





Lappung Media Network