Lappung – Gelombang demonstrasi yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini dinilai bukan semata-mata lahir dari kebijakan yang kontroversial.
Pakar menyebut, lisan wakil rakyat yang tidak terjaga turut menjadi pemantik ketidakpuasan publik yang meluas hingga menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi.
Baca juga : Pria Pembawa Bom Molotov Ditangkap TNI Jelang Demo Besar di DPRD Lampung
Direktur Zakat Study Center, Muhammad Syauqi Al Muhdhar Lc., MA., PhD (cand), menyatakan bahwa pernyataan dari beberapa anggota DPR RI justru menjadi “api dalam sekam” yang memperburuk situasi.
“Inilah pelajaran pahit bagi kita semua: bahwa lidah bisa lebih tajam dari pedang, dan ucapan yang sembrono dari seorang pejabat mampu menyalakan bara ketidakpuasan publik,” ujar Syauqi dalam keterangannya, Senin, 1 September 2025.
Menurutnya, para anggota dewan yang mengemban amanah rakyat seharusnya menjadi teladan dalam bertutur kata.
Alih-alih memberikan solusi, beberapa pernyataan mereka justru dianggap provokatif dan tidak peka terhadap kesulitan yang dialami masyarakat.
Pelajaran Etika dari Hadis Nabi
Syauqi mengingatkan bahwa ajaran Islam telah meletakkan fondasi yang kuat mengenai etika berbicara.
Baca juga : Membubarkan DPR/DPRD: Gagasan Emosional, Bukan Solusi Demokrasi
Ia mengutip sebuah hadis populer yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sebagai panduan bagi para pejabat publik.
“Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.’
“Hadis ini bukan sekadar nasihat, melainkan panduan etika sosial yang sangat relevan,” jelasnya.
Menurut Syauqi, seorang wakil rakyat seharusnya menyaring setiap kata sebelum melontarkannya ke publik.
“Kata yang baik adalah obat, sedangkan kata yang salah dapat menjadi racun bagi stabilitas bangsa,” tegasnya.
Lebih jauh, ia juga menyoroti pentingnya bagi para pejabat untuk fokus pada hal-hal yang esensial dan meninggalkan komentar yang tidak produktif, sebagaimana diajarkan dalam hadis riwayat At-Turmudzi.
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya.
“Apa yang tidak penting bagi anggota dewan? Yaitu ucapan yang tak memberi solusi, komentar yang memicu luka, atau pernyataan yang tak peka,” kutip Syauqi.
Baca juga : Penonaktifan Anggota DPR: Antara Respons Cepat dan Ujian Akuntabilitas
Saatnya Mendengar, Bukan Menambah Gaduh
Syauqi menekankan, yang terpenting bagi anggota dewan saat ini adalah mendengar aspirasi masyarakat, merasakan penderitaan rakyat kecil, dan menggunakan forum parlemen untuk mencari jalan keluar, bukan sebaliknya.
Kondisi bangsa yang sedang berduka, menurutnya, diperparah oleh retaknya kepercayaan publik terhadap para wakilnya.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar para anggota dewan lebih banyak bekerja dalam diam dan mempercepat langkah perbaikan sebagai respons atas kritik.
“Diam dan bekerja cepat untuk memperbaiki keadaan jauh lebih mulia daripada banyak bicara yang hanya melukai.
“Saatnya belajar kembali dari hikmah Islam: menjaga lisan dan mendahulukan yang penting,” katanya.
Ia menutup dengan pesan tegas bahwa amanah sebagai wakil rakyat bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal etika.
“Agama tidak sepatutnya hanya dijadikan hiasan pemanis saat kampanye. Nilai-nilainya harus menjadi ruh yang memandu setiap langkah dan kebijakan,” pungkasnya.
Baca juga : Gerakan Agustus 2025: Ketika Rakyat Menjadi Guru bagi Para Wakilnya





Lappung Media Network