Lappung – Pempek, kuliner legendaris berbahan dasar ikan dan sagu, tidak hanya menjadi primadona di meja makan, tetapi telah menjelma sebagai pilar ekonomi vital di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Dengan nilai sejarah yang panjang, makanan khas ini kini tengah diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari UNESCO.
Baca juga : Seporsi Makanan Seharga Rumah? Ini Daftarnya
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyatakan bahwa pempek telah membuktikan diri sebagai kekuatan ekonomi dan budaya yang berkelanjutan di Sumbagsel, yang mencakup Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Bangka Belitung.
“Pempek bukan cuma soal nostalgia atau kebanggaan daerah.
“Ini adalah bisnis nyata yang menghidupi ribuan keluarga,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 22 Oktober 2025.
Penggerak Ekonomi Riil
Signifikansi ekonomi pempek, menurut Mahendra, tidak bisa dipandang sebelah mata.
Ia merujuk data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumatera Selatan, yang mencatat pengiriman pempek dari Palembang ke berbagai daerah di Indonesia bisa mencapai 6 hingga 8 ton setiap harinya.
“Bayangkan berapa banyak keluarga yang bergantung dari produksi dan penjualan pempek.
“Industri rumahan ini telah menjadi salah satu penopang ekonomi utama di wilayah Sumbagsel,” jelasnya.
Guyuran kuah cuko yang asam, manis, dan pedas, lanjutnya, tak hanya memanjakan lidah tetapi juga menggerakkan roda perekonomian lokal secara masif.
Berjuang Menuju Panggung Dunia
Upaya membawa pempek ke panggung dunia kini difokuskan pada pengusulannya ke UNESCO.
Mahendra Utama menekankan bahwa langkah ini krusial untuk pelestarian dan pengakuan global.
“Ini bukan sekadar soal gengsi atau pengakuan internasional.
“Ini adalah tentang menjaga agar pempek tetap lestari, agar generasi mendatang tetap mengenal, dan agar dunia tahu kekayaan kuliner Indonesia yang luar biasa,” tegas Mahendra.
Jejak Sejarah dari Era Sriwijaya
Mahendra menjelaskan, jejak sejarah pempek dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.
Baca juga : Lampung Menyambutmu dengan Semangat Kolaborasi di Lampung Fest 2025
Bukti sejarah merujuk pada catatan tanaman sagu dalam Prasasti Talang Tuo.
“Dulu makanan ini dikenal sebagai kelesan, merujuk pada cara pembuatannya yang harus ditekan-tekan agar adonan kalis,” kata Mahendra.
Nama pempek sendiri, tambahnya, diperkirakan baru populer sekitar tahun 1920-an.
Nama itu diyakini berasal dari panggilan Apek (panggilan khas untuk kakek Tionghoa) kepada pedagang yang menjajakannya.
“Ini juga bukti bagaimana budaya lokal dan Tionghoa bisa menyatu dengan harmonis melalui kuliner,” ujarnya.
Kekayaan pempek juga terletak pada ragam jenisnya yang menawarkan cita rasa berbeda.
Beberapa yang paling populer di antaranya adalah Pempek Kapal Selam (berisi telur ayam utuh), Pempek Lenjer (bentuk silinder klasik), Pempek Lenggang (dipanggang dengan campuran telur), dan Pempek Pistel (berisi tumisan pepaya muda).
“Dari meja makan keluarga hingga panggung dunia, pempek terus menginspirasi dan membuktikan bahwa makanan tradisional bisa menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan,” tutup Mahendra.
Baca juga : Changok Ghaccak Resmi Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya Lampung Utara
